Tentangnya
Saat aku mulai berharap menemukan cinta, cinta
yang tak harus memiliki. Seakan berubah menakutiku. Aku bukanlah seseorang yang
pandai menyediakan segala sesuatu. Aku hanya masih merajut mimpi untuk melihat
kenyataan. Kita memang berbeda dalam beberapa hal. Bukan karena engkau
perempuan dan aku laki-laki. Aku hanya ingin engkau tahu, jika aku pun berhak
mencintai dan dicintai. Ketika kau tak melihatku pantas, kau memang berhak
memilih. Aku akan senang melihat engkau bahagia dengan pilihanmu. Aku manusia
biasa, sama sepertimu? Entahlah.
Suatu hari, aku datang sebagai orang yang tidak
mengenalmu. Kala itu, aku merasa asing. Aku orang baru bagimu, dan kau pun akan
jadi teman baruku. Aku tak peduli dengan pekerjaanku saat ini, atau pun saat
itu. Selama aku mencarinya di jalan halal, aku terima. Aku syukuri sebagai rahmat
Tuhan. sedikit atau banyak penghasilanku, ini hanya masalah waktu. Dengan
mengerjakan yang menjadi tugas dan tanggung jawabku, aku lebih bisa mengerti
arti sebuah hidup.
Setiap hal yang belum aku tahu mengenaimu, aku
hargai dengan diamku. Aku bersyukur, melihat kau seperti jijik saat aku ajak
bicara. Itu artinya, aku masih di beri pikiran untuk introspeksi diri. Aku
bersyukur, saat kau menyuruhku dengan sikap acuh tanpa aku dengar kata tolong-mu.
Itu artinya, pendengaranku masih baik dan tenagaku masih di butuhkan. Aku
bersyukur, saat kau terlihat enggan untuk aku sapa, untuk aku dekati, bahkan
saling berbicara untuk lebih akrab. Itu artinya, aku bisa menahan egoku untuk
tak berteriak di depanmu. Karena dibalik diamku. Hatiku berkecamuk jika melihat
keadaanku. Apakah aku pantas untuk menjadi seseorang yang bisa menyapa dengan
baik dan berbagi cerita di lain waktu?. Aku pun sama bisa merasakan getir
pahit, saat menjadi orang yang di campakan karena ketidaksejajaran.
Siapa aku ? aku hanyalah aku. aku biarkan
menggurita sosok yang bisa aku jadikan peran. Sesulit apapun berlatih menjadi
peran orang lain, akan terasa lebih sulit berlatih untuk menjadi diri sendiri.
aku hanya seorang manusia yang sedang belajar menghargai kenyataan. Ini bukan
lah sama saat seseorang menolak perubahan. Tapi menyadari saat kehidupan
memperlihatkan sisi lain dari yang kita alami.
Menanti kebaikan dengan bersabar, jauh lebih
indah. Aku ingat, saat kau memberiku ucapan terima kasih, meski aku membalas
diam dalam bibir. Kau tentu tak melihat jalan pikiranku. Aku membisu karena
malu. Suaraku hanya bisa memekik di tenggorokan. Aku dilema melihat kau yang
baik atau buruk. Saat dari jauh aku dengar teriakan sinismu. Aku takut sikapku
akan membuatnya tak nyaman lagi. Lebih baik mendengar caciannya, dari pada
melihat dia menyesal kerena berhubungan denganku. Aku akan tetap senang menjadi
orang yang bisa membantumu.
Manusia butuh dihargai. Manusia butuh diakui
keberadaanya. Aku ingin mengakui suatu hal yang mungkin tak ingin kau dengar.
Aku ingin kau tahu perasaanku sebenarnya. Berikan aku waktu untuk mengatakan
semuanya. Aku harap, engkau mau bersabar mendengarkan dan sedikit berbagi
mengenaimu. Aku tak peduli kau akan menolak. Iya, meski aku akan menangis saat
berada jauh darimu. Aku akui, aku senang bisa menjadi bagian dari hidupmu.
Walau pun kehadiranku justru mengusik ketenanganmu. Aku minta maaf. Maaf telah
membiarkanmu masuk dalam kehidupanku. Maaf karena aku menyayangimu. Ini aku
adanya. Aku hanya bisa mencintaimu, sebatas usahaku untuk memuliakan sebuah
hubungan agar lebih baik. Maukah kau memberitahu kepadaku siapa engkau?
Sumber Gambar : twitter.com

0 komentar:
Posting Komentar