Minggu, 22 Maret 2015

Dia #2

 

Tangisan bukan hanya mengatakan terlalu berat ditinggal pergi seseorang
Kau pun akan menangis saat rindu yang tak terjamah hanya karena rasa takut
Bahkan rasa tak pantas dalam diri, enggan lalu jenuh
Untuk apa menjerit ?
Untuk apa melangkah dengan sejuta belenggu?
Seperti mata tak berani menatap, namun hati menggerutu keras
Bukankah indah dan menyenangkan,
melihat seseorang yang kau cintai tengah duduk dihadapanmu
Pikiranmu seakan rusak, tak lagi kuasa memandang wajahnya
Hatimu justru menolak menatapnya lantaran kau takut jatuh cinta terlalu dalam
Cinta tak peduli dengan si miskin dan si kaya
Cinta tak menjadi budak bagi seorang Raja
Inilah yang tengah aku rasakan, menjadi orang yang lemah sekaligus kuat
Dia? Apa kamu mau mengakui?
Aku hanya satu dari sekian orang yang kamu cinta dan benci
Karena,
Kamu pula satu dari sekian orang yang aku cinta dan benci
Sekarang, tak ada persembahan yang baik dari tangan kanan dan kiriku untukmu
Semoga rasa jujur ini menjadi penggantinya
Jujur,
Aku cinta saat terus belajar menahan diri untuk tak lama memandangmu
Meski dari kejauhan
Aku benci saat hatiku mamaksa dan meminta untuk lekas memohon kepadamu
Entah siapa yang harus sadar? Aku hanya tak ingin melukainya
Memandangnya tengah duduk, berjalan, berbicara dan senyum hangatnya
Aku merasa sadar benar, bahwa aku telah menjadi orang yang selalu gagal
Aku gagal berhenti memperhatikan dan mengharapakannya
Andaikan pintu mampu membisikan tentang jemari manisnya,
Tangga merekam langkah anggunnya,
Dan hijab yang menjadi pengenal baginya
Apa akan pantas untuk sebuah permohonan ? Rasanya Tidak !
Dia dan kekasihnya seperti sudah menjadi pasangan erat
Dari sisi mana aku harus memulainya,
Menyatakan diriku untuk menjadi pangeran hatinya
Iya, seperti itu rasanya jatuh cinta
Rindu, Rasa cemas dan Tangis
Dan satu hal yang membuat Aku benar-benar merasa terpenjara
Aku ini siapa ???
“Entahlah, aku hanya merasa ingin menjadi lebih baik saat mengenalnya”


Sumber Gambar : www.alsc.ala.org








































0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Penalesia