Minggu, 15 Maret 2015

Hal yang Di Sepertikan



Penalesia

Kau bisa lihat, pengembala yang gigih mencari rumput. Tanaman hijau mungil yang rela tersentuh alas kaki. Mereka mengapar luas untuk menutupi bumi dari sinar mentari. Dia rela tercuri untuk dilumat yang seharusnya. Meski terkadang tersingkir karena menutupi pelataran. rumput yang tercipta begitu banyaknya pun, sang pengembala harus mencarinya.

Kali ini, aku tuangkan segenap tenagaku untuk menemukan bekal hari esok. Aku terpaksa tetap membuka mata. menahan dagu yang terasa berat. Tapi aku tetap manusiawi. Memejamkan mata sesaat untuk menipu kantuk. Iya, mungkin saja aku bisa menarik mimpi ke alam sadar. Aku cengkram erat agar tak lepas. Mimpi yang aku nantikan dari kehidupan nyata yang kosong harapan. Aku menenangkan diriku dari hiruk pikuk campur tangan para pengembala.

Aku masih ingin tetap hidup. seperti membiarkan raga terbakar tanpa sumber mata air. Siapa yang mau menolongku ? aku merasa hilang dari kepungan orang-orang sesamaku. aku hanya bagai hidup menyendiri. Mengucap kalimat singkat yang aku teriakan diatas perih hati. Aku lelah untuk memohon, tapi angin terus memaksaku untuk menyongsong yang tak terlihat.

Hal yang aku nantikan saat selembar kertas membuatku berkeringat. Aku tertawa sendiri untuk pertama kalinya. ramalan-ramalan yang aku pikir nyata. semua nampak omong kosong. ketika aku ingat kembali masa kecilku yang hidup dalam keluguan dan jauh dari memikirkan kekurangan. sekedar membagi luka yang aku toreh saat memetik rizki. Bercerita dibalik keluh kesah yang menjauhkan dari Tuhan. Hidup dengan segala kebutuhan dan ada. Aku bilang, ini hal yang disepertikan. Mengucapkan keadaan dengan kalimat lain. Seperti ingin berlari dari kenyataan.


Sumber Gambar : 1ms.net

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Penalesia