Minggu, 22 Maret 2015

KETIKA HATI MEMILIH

 

Siapa yang menyangka?

Dibalik hal biasa, aku menemukan cahaya baru

Bukan aku yang meminta, tapi hati seperti yang memohonnya

Apa ia akan enggan?

Rinduku seperti tak tertahan

Rindu yang kerap mengetuk – ngetuk relung hati

Hingga tawa menyatu dengan pilu

Tersenyum memikirkanmu

Terharu mengharapkanmu dalam do’a

Nafas ini terasa menggebu karena aku coba menahannya

Bagaimana ini terjadi?

Bayang wajahmu selalu menyertaiku

Engkau pula ada dalam tasbihku

Engkau pula hadir menjelang tidurku

Andai benar rasa ini yang Tuhan mau

Biarkan cinta ini terjaga suci

Ya Allah, Engkau yang menggenggam hati setiap makhluk

Engkau yang Kuasa membuka dan memberinya cahaya

Engkau penguasa hati dan cinta

Sekeras apapun hamba meminta

Setangguh apapun hamba menolaknya

Engkau yang memberi Izin

Ya Tuhan, izinkan hamba jatuh cinta pada makhluk ciptaan-Mu

Izinkan hamba merawatnya agar tetap terjaga kesuciannya

Engkau Tahu, siapa yang sedang hamba pikirkan

Siapa yang sedang hamba rindukkan

Siapa yang sedang hamba harapkan saat ini

Jaga perempuanku Tuhan, jika rasa ini yang Engkau hendaki

 

Ya Allah, Jauhkan diriku dari keraguan dan kemunafikkan

Karena hati ini telah memilihnya. Aamin…

 

 

Sumber Gambar : bilikmakna.wordpress.com

Namamu

Penalesia
 
Dan serasa kau memanggil dari jarak dekat
Kau seperti tak ingin menggangunya
Cinta ? atau Sayang….
Siapa nama kekasihmu?
Sungguh indah, saat kau berjalan dan berlari hanya nama dia yang kau ingat
Siapa orang pertama yang kau perhatikan?
Matamu seperti menatap teman disampingmu, namun pikiranmu tertuju padanya
Bukankah kau ingat? Setiap gerik, tawa dan senyummu ada harapan untuknya
Rasa yang kau sebut cinta bisa menjadi mimpi atau kenyataan
Hanya saat kau memilih diam atau berani mengatakannya
Biarkan dunia tak perlu tahu siapa orang yang kau cintai, tapi jaga dalam hatimu nama seseorang yang selalu kau ingat
Tanyakan, siapa orang yang selalu kau ingat?
Sebutkan, siapa nama yang kau dahulukan dalam pikiranmu?
Dengar, aku seperti dirimu
Kau takut mengatakan cinta, kau takut memintanya menjadi kekasih
Hanya karena kau baru mengenalnya dan tahu dia dimiliki
Padahal, siapa nama seseorang yang sukar kau jauhkan dari pikiranmu?
Yakinkan jika sulit dia anggap kau mencintainya, dengarkan saja apa kata hatimu
Iya, itu yang akan aku lakukan ! Mendengar hati menyebut namanya dan kita sadar hanya nama dia yang kita ingat
“Aku tak pernah berpikir akan mencintaimu bahkan akan sering mengingat namamu, tapi itulah yang aku rasakan sekarang. Hatiku memanggil namamu!”. Ini yang akan aku katakan padanya.


Sobat, apa yang akan kamu katakan….?
 
 
Sumber Gambar : marchiafanfiction.wordpress.com

























Tanyakan pada Daun

 
Daun,
Apa kamu menangis lirih saat jatuh dari tangkaimu hingga aku tak bisa mendengar suara tangismu?
Atau,
Kau justru tersenyum karena itu Rencana Indah dari Tuhan untukmu?
Aku pernah melihat kamu terjatuh saat masih menghijau
Apa kamu tak kuat lagi berpegangan sampai kamu menua dan mulai berubah warna?
Maaf,
Kalau saja aku mendengar saat kamu jatuh dari tangkaimu, aku akan senang jika ternyata kamu girang karena tahu itu hanyalah Rencana Indah dari Tuhan
Tapi,
Aku tetaplah menjadi lemah saat tangan-tangan manusia yang membuat kamu berteriak keras
Kau runtuhkan tanah ketika sudah menompang kuat
Kau hanyutkan rumah dengan air ketika sudah mengalir tenang
Dengarkan saja tangismu, biar Tuhan yang membalasnya pada mereka yang salah
Rumahmu,
Akan indah dengan kelahiranmu

Daun,
Jatuhlah dengan bangga seperti yang sudah kamu lakukan karena aku akan menirunya
Manusia memang rakus dan kejam
Tapi hanya terkadang saat seperti dirimu
Masih ada yang beradab dan mencintaimu

Daun,
Aku minta maaf tak bisa menjagamu sepenuhnya
Aku ingin kita sama-sama tahu
Rencana Tuhan akan selalu Indah pada akhirnya
#MariCintaiTanaman
 
Sumber Gambar : filsafat.kompasiana.com





























Tapi Hatimu


Memang bukan karena matamu
Bukan karena senyum manismu
Bukan pula karena lentik jemarimu
Ingin rasanya aku bergurau, kalau kalau wajahmu jelek
Dengar,
Bukan karena cantik wajahmu yang membuat hatiku berdebar
Melainkan hatimu yang membuatnya
Hatimu yang akan aku tunjuk jika kamu bertanya
Bagaimana aku menjauhkanmu dari piiranku?
Sementara bayang wajahmu ada dalam benak
Bagaimana aku mencelamu?
Sementara cinta ini memandang jauh ke hatimu
Aku bisa saja lari menjauhimu,
Tapi bisakah kau jauhkan rasa cinta yang sudah Tuhan titipkan kepada hati?

Rasa ini yang membuat kamu dekat
Rasa ini yang membuat aku melihat hatimu
Karena hatiku, untukmu…
 
Sumber Gambar : berbagitulisan.wordpress.com


















INISIAL

 
Tentu, sama seperti yang kau katakan
Orang berhak menilai
Saat kau sebagai putih
Dan saat kau sebagai hitam
Kau ingin tetap dengan warnamu
Ketika ada sangkaan mengenai kita
Boleh jadi kita hanya tahu dari yang lain
Lalu kita iyakan, Karena kita merasa berhak
Aku mendekat, tertawa dan terlihat akrab pada yang lain
Seperti aku tak harus menyebut kau menginginkan semua,
Menginginkan cinta dari banyak orang,
Ingin memiliki semua yang kau mau,
Hingga perlahan aku menghinakanmu?
Hanya karena kau tengah berkumpul dengan sahabat dan teman lawan jenis
Kita sadar, kita tak akan sepenuhnya tahu satu sama lain
Kita hanya butuh mengerti dan hati yang bijak dengan keadaan yang berubah-ubah
Saat raga dan tawa ini dekat selain denganmu
Itu tak sama saat rasa cinta dan setia dalam hatimu selalu kau jaga untuk orang yang kau sayangi
Karena itu yang aku lakukan untukmu
Itu yang aku lakukan
Aku membutuhkan sosok yang mau saling menjaga
Betul, masih dini aku bilang mencintaimu, aku memilihmu karena ada dorongan
Aku merasa ingin menjadi lebih baik, menata diri dan belajar saling menjaga sikap
Rasa ini yang aku temukan saat melihatmu
Kita tak bisa membantah kecantikan rupa yang Allah titipkan pada wajah perempuan
Kita tak bisa menggerutu kekurangan fisik yang Allah tunjukan pada diri insan
Kita tak bisa mengelak saat Allah anugerahkan cinta dalam hati seseorang
Kau yang nilai, apa ini terdengar seperti perkataan orang sedang jatuh cinta?
Aku hanya suka memikirkanmu dan ingin menjadi orang yang menjagamu
Maka rasa ini yang aku turuti, memilihmu untuk saling menjaga bukan karena cinta semata
Tapi karena niat dan anjuran agamaku, ini yang membuat aku reda
Aku berharap, kau memilih seseorang karena agama dan niatan yang baik pula
Kau pun menolak seseorang karena agama dan niat yang baik
Maaf, kalau aku menyukaimu, Lavenderlious
 
Sumber Gambar : ngulik.co




































Ini Aku Adanya


Kau takut aku melukaimu?
Kau takut aku mencampakanmu?
Kau takut aku mendustakanmu?
Sempatkah kita berpikir, kita akan saling bertanya tentang ini?
Kita bahkan belum saling mengenal
Terlebih, kita tak pernah tahu rencana Indah dari Tuhan
Apa ada yang membuat kamu merasa tak nyaman?
Maafkan aku, ajak aku membicarakan ini
Aku ingin bisa dekat denganmu
Mohon, jangan menjauh hanya karena rasa takut dari yang tidak kita tahu
Cinta, seperti ini aku adanya
 
Sumber Gambar : mediamakna.blogspot.com












Dia #2

 

Tangisan bukan hanya mengatakan terlalu berat ditinggal pergi seseorang
Kau pun akan menangis saat rindu yang tak terjamah hanya karena rasa takut
Bahkan rasa tak pantas dalam diri, enggan lalu jenuh
Untuk apa menjerit ?
Untuk apa melangkah dengan sejuta belenggu?
Seperti mata tak berani menatap, namun hati menggerutu keras
Bukankah indah dan menyenangkan,
melihat seseorang yang kau cintai tengah duduk dihadapanmu
Pikiranmu seakan rusak, tak lagi kuasa memandang wajahnya
Hatimu justru menolak menatapnya lantaran kau takut jatuh cinta terlalu dalam
Cinta tak peduli dengan si miskin dan si kaya
Cinta tak menjadi budak bagi seorang Raja
Inilah yang tengah aku rasakan, menjadi orang yang lemah sekaligus kuat
Dia? Apa kamu mau mengakui?
Aku hanya satu dari sekian orang yang kamu cinta dan benci
Karena,
Kamu pula satu dari sekian orang yang aku cinta dan benci
Sekarang, tak ada persembahan yang baik dari tangan kanan dan kiriku untukmu
Semoga rasa jujur ini menjadi penggantinya
Jujur,
Aku cinta saat terus belajar menahan diri untuk tak lama memandangmu
Meski dari kejauhan
Aku benci saat hatiku mamaksa dan meminta untuk lekas memohon kepadamu
Entah siapa yang harus sadar? Aku hanya tak ingin melukainya
Memandangnya tengah duduk, berjalan, berbicara dan senyum hangatnya
Aku merasa sadar benar, bahwa aku telah menjadi orang yang selalu gagal
Aku gagal berhenti memperhatikan dan mengharapakannya
Andaikan pintu mampu membisikan tentang jemari manisnya,
Tangga merekam langkah anggunnya,
Dan hijab yang menjadi pengenal baginya
Apa akan pantas untuk sebuah permohonan ? Rasanya Tidak !
Dia dan kekasihnya seperti sudah menjadi pasangan erat
Dari sisi mana aku harus memulainya,
Menyatakan diriku untuk menjadi pangeran hatinya
Iya, seperti itu rasanya jatuh cinta
Rindu, Rasa cemas dan Tangis
Dan satu hal yang membuat Aku benar-benar merasa terpenjara
Aku ini siapa ???
“Entahlah, aku hanya merasa ingin menjadi lebih baik saat mengenalnya”


Sumber Gambar : www.alsc.ala.org








































Berhenti Berharap



Penalesia

Aku  tak  berpikir  akan  mengirim surat  ini  sebelumnya.  Aku  merasa  lelah  dengan  keberadaanku.  Seperti  saat  aku  bersikap acuh  dihadapan   seseorang . menjauh   untuk tak memulai sebuah  pembicaraan  . Dia tentu tahu,  itu  bukan  cara  yang  tepat  untuk  menjalin   sebuah  pertemanan. Entah, kenapa  aku  suka  memilih   bersikap  seperti  itu?

Ada saat  dimana  aku  harus  memahami seseorang.  Ada saat  dimana  aku  merasa tak  berhak  mengenal  seseorang. Aku memang  bukan  orang  yang penting  untuk  dipandang. Aku  hanya ingin  seseorang  tahu  persoalan kecil ini yang kerap membuatku  bimbang. Apa  yang  sebenarnya dirasa  sakit dari  sebuah  pertemuan ? Boleh  jadi, ini  sekedar  prasangka saja. Iya, prasangka yang membuatku bingung. Aku masih ingat, saat  ada  perasaan  yang belum  aku  mengerti . Seakan  aku  hidup  menjadi  orang  lain. Mengasingkan  diri atau  tampil  penuh  percaya diri. Seolah aku  akan  menjadi  pusat  perhatian. Apa  yang  pantas  untuk aku  sebut  perasaan  semacam  ini? Egokah aku? Sombongkah aku? atau justru ini  sikap bijakku?

Aku berusaha untuk  menjadi seseorang tak  terlalu memaksakan diri. Ternyata, itu sulit. sesulit aku memisahkan  rindu dari  kebincian terhadap  seseorang. Bukankah selaras, antara kebencian  dengan  melupakan  sesuatu? jika benar  rasa  rindu  itu adalah cinta  yang  sederhana. Ya Tuhan, bagaiman mungkin kebencianku  sebagai sebab rasa rindu ini?. Aku benci  seseorang  itu. Rasa benci  yang  tak  seharusny  ada. Bahkan, rasa  rindu  dan  cinta  yang  memang tak semestinya ada. Aku  hanya ingin  titik  tengah  diantara  cinta  dan  kebencian. Tiada perasaan  merindu, tiada  pula membenci.

Aku akui, aku  orang yang  tak  pandai  bergaul  dengan  lingkungan  yang  aku anggap  berbeda  dengan  watak  dan  karakterku.  Memang, adanya  perbedaan  alasan  seseorang untuk  memilih. Lantas, apa  arti  menuntut persamaan? satu  sama  lain  manusia  tak  ada  yang  sama. Mereka  punya cara  hidup  dan  jalannya  masing-masing.

Meraka yang  kaya,  jahat, penindas, penyela, dan  butuh  Tuhan.
Meraka yang kaya,  baik,  penolong,  penyantun,  dan  butuh  Tuhan.
Meraka yang  miskin, gengsi,  apatis,  dan  butuh  Tuhan.
Meraka yang  miskin, legowo, akur, dan butuh  Tuhan.
Dan meraka yang sama sekali tidak  butuh  Tuhan.

Setiap  orang  butuh  kebaikan  tanpa  berpikir  adanya Tuhan.  setiap  orang butuh  dihargai. Setiap  orang  butuh  dimengerti.  Teruskan  apa  yang  menjadi  kehendaknya. Teruskan  apa  yang dia anggap  baik. terasa  menyenangkan  melihat  seseornag  yang  mampu menjadi  dirinya  sendiri. Apa  peduliku  dengan  kehidupannya?  perilakunya? ketaatannya pada sang  pencipta? dia  yang  sepenuhnya bertanggung jawab.  Sesaat, cinta  terasa  halus  pada  pandangan  pertama. Namun,  kenyataan bukan  terletak pada sebuah  pandangan. Melainkan  pada  sikap  bijak seseorang  untuk  setiap  kejadian.  Aku bahkan  tak  mengerti, ketika  keadaan yang  berbeda  dijadikan  pemisah.  Sebenarnya, itu  tak membuat  aku  tersenyum  saat  mengingatnya.  Hanya  saja, batin  ini  mendorongku  begitu  kuat. batinku bilang, “Kau bukan  laki-laki lemah. tiada  pekerjaan  yang  sulit,  hanya  orang  yang  mudah  menyerahlah  yang  membuatnya  ada.”

Terkadang, aku mengikuti  cara  hidup  seseorang  untuk  menemukan  keakraban.  Meski pun aku  merasa  seperti  terpenjara.  Tapi aku coba  ‘tuk  pahami, karena  segala  sesuatu  ada pada masanya. Dia perempuan baik, tentu  yang  baik  pula yang akan  menjadi  miliknya.

Dia  lebih  tua  dariku. Walau pun tak berbeda  jauh.  Aku  pantas  menghormatinya. Aku  bukan tak  bisa  mengikuti  cara  bersikap  atau  bergaulnya. Ini  hanya  terlihat  asing. aku  terima  jika  dia  yang  melakukannya.  Aku  tak  bilang  bahwa  aku  tak  menyukainya.  Aku  hanya  tak  ingin  melakukannya.  Melakukan  yang  bukan  jadi  kehendakku.  Jika  menurutnya  aku berbeda  dari  yang  lain.  iya  betul. Aku  senang  bisa  saling  membaur.  Tapi  aku  tak bisa  memaksa  diri  untuk  menyesuaikan  sepenuhnya.  Dia  bebas  melakukan  apa  yang  menjadi  keinginannya.  Tawanya  yang  melupakan  senyum. Asapnya  yang  menutup  wajah  perempuannya.  Waktu  senggangnya  yang  terkadang  aku   curi  untuk  bersujud. Dia  boleh-boleh  saja menilaiku  sebagai  manusia  bodoh, angkuh  atau  apa pun itu. Aku minta  maaf  jika  itu  membuatnya terganggu. Maaf  jika  sikapku  terkesan  kampungan.  Maaf  jika  tabiatku  tak  sesuai dengan  keinginannya. Dan maaf  jika  terkadang  aku  memikirkannya. Aku ucapkan terima  kasih,  karena dia  izinkan  aku  menjadi  bagian  hidupnya.

Meski sebenarnya Aku  benci  untuk  mengatakan  semua  ini .  tapi  aku juga lelah  jika  hanya diam  menahan  rasa.  Bersembunyi  dibalik  jerit   hati.  Entah,   aku  merasa  seperti  ada  hal  yang  tak  seharusnya  ada. Yaitu  saat  ketidaktarikannku kepadanya  justru  membuat  hadir  perasaan lain. Benci, benci, rindu dan  rindu. Aku  benci  kenapa bisa  membencinya. Aku benci  kenapa  terkadang  memikirkannya. Aku tak  pernah  menyesal  bertemu  dengannya. Aku hanya  berharap,  ini  adalah  jalanku  untuk  memaknai  sebuah  pertemuan  sebelum  datang  perpisahan.  Meunghargai  sesuatu  yang  berada  diluar   dan   didalam  hidupku. Ketidaksempurnaan  mengajari  kita  untuk  melakukan  sesuatu  dengan  cara  yang  sempurna. Entah,  apa  yang  mendorongku  untuk  mengatakan semua  ini.  tak juga  tepat  jika  aku  bicara  lewat  surat  ini  diluar  kesadaranku. Aku  hanya  bicara dari  apa  yang  aku  rasa. Terdengar  menyiksa  batin,   saat  ingin  menggapai   sesutau  yang  jauh  dari  jangkauanku.  Mungkin  ada  jalan  penghubung  untuk  mencapainya. Aku hanya  perlu  menunggu  Tuhan memberi  jalan  atau  Tuhan  mendekatkan  dia  untukku. Ya Tuhan, aku hanya  ingin  tahu, haruskah  aku  bicara  seperti  ini dan mengadu kepada-Mu hanya  karena  terlanjur  kangen  kepada  perempuan  ciptaan-Mu? perempuan  yang  aku  rasa ‘membencinya’.

Apakah  cinta  itu   sebuah  kekhilafan, sehingga  patut  bagiku  meminta   maaf  ketika  mencintainya? haruskah  aku meminta  izin  kepada  Tuhan  hanya  untuk  jatuh  cinta  kepadanya?. Amat sukar  untuk  mengerti  jalan  pikirannku.  Setidaknya, aku  bisa  berhenti  berharap  untuk  memilikinya  yang  sudah jadi  milik orang  lain. bahkan  berhenti  memikirkannya.  Aku bukan  siapa-siapa.  Aku hanya  manusia  biasa  yang  penuh  salah. Juga sombong. Kali ini, mungkin  kesombonganku yang  sekian  kali.  Seperti  keharusanku  jujur  mengenai  perasaanku  terhadapnya. Maaf  bila  aku terlanjur  menyayanginya. Meski sebatas cinta  yang aku tahan  dalam senyuman  kecil  dibalik  tatapannya. Karana  tatapan itu ada pada  dirinya dan dirinuya itu, kamu.


Sumber Gambar : www.gbis-online.org



















Bicara Sahabat

Penalesia


Sahabat memang hanya sebuah sebutan, sebuah pengakuan yang bersyarat.
Ada yang bilang, sahabat itu ada di saat kita sedih dan gembira. Apa ini syaratnya ?!
Aku ingin tahu, jika dalam hidup hanya berlangsung dengan kesedihan.
Adakah sahabat yang mau menemaniku ?
Aku menyeru di kesunyian.
Aku terbahak dalam kegembiraan.
Aku sendirian.
Nyata.
Dan aku tak buta.
Aku merasa rindu kebersamaan.
” Bagaimana dengan sahabat ?”
“Tidak”. Aku atak butuh kehadirannya.
Aku tak bisa memaki.
Aku tak bisa mengerutu.
Biarkan sahabat terbang.
Biarkan sahabat melaju.
Biarkan Sahabat mengarung.
Dia berhak melalui harinya tanpa aku mendesaknya untuk menemuiku.
Sahabat hanya bisa berbagi waktu.
Karena aku tak bisa memaksanya berbagi jarak.


Sumber Gambar : katamutiara.web.id
 

Tentangnya

Penalesia 

Saat aku mulai berharap menemukan cinta, cinta yang tak harus memiliki. Seakan berubah menakutiku. Aku bukanlah seseorang yang pandai menyediakan segala sesuatu. Aku hanya masih merajut mimpi untuk melihat kenyataan. Kita memang berbeda dalam beberapa hal. Bukan karena engkau perempuan dan aku laki-laki. Aku hanya ingin engkau tahu, jika aku pun berhak mencintai dan dicintai. Ketika kau tak melihatku pantas, kau memang berhak memilih. Aku akan senang melihat engkau bahagia dengan pilihanmu. Aku manusia biasa, sama sepertimu? Entahlah.

Suatu hari, aku datang sebagai orang yang tidak mengenalmu. Kala itu, aku merasa asing. Aku orang baru bagimu, dan kau pun akan jadi teman baruku. Aku tak peduli dengan pekerjaanku saat ini, atau pun saat itu. Selama aku mencarinya di jalan halal, aku terima. Aku syukuri sebagai rahmat Tuhan. sedikit atau banyak penghasilanku, ini hanya masalah waktu. Dengan mengerjakan yang menjadi tugas dan tanggung jawabku, aku lebih bisa mengerti arti sebuah hidup.

Setiap hal yang belum aku tahu mengenaimu, aku hargai dengan diamku. Aku bersyukur, melihat kau seperti jijik saat aku ajak bicara. Itu artinya, aku masih di beri pikiran untuk introspeksi diri. Aku bersyukur, saat kau menyuruhku dengan sikap acuh tanpa aku dengar kata tolong-mu. Itu artinya, pendengaranku masih baik dan tenagaku masih di butuhkan. Aku bersyukur, saat kau terlihat enggan untuk aku sapa, untuk aku dekati, bahkan saling berbicara untuk lebih akrab. Itu artinya, aku bisa menahan egoku untuk tak berteriak di depanmu. Karena dibalik diamku. Hatiku berkecamuk jika melihat keadaanku. Apakah aku pantas untuk menjadi seseorang yang bisa menyapa dengan baik dan berbagi cerita di lain waktu?. Aku pun sama bisa merasakan getir pahit, saat menjadi orang yang di campakan karena ketidaksejajaran.

Siapa aku ? aku hanyalah aku. aku biarkan menggurita sosok yang bisa aku jadikan peran. Sesulit apapun berlatih menjadi peran orang lain, akan terasa lebih sulit berlatih untuk menjadi diri sendiri. aku hanya seorang manusia yang sedang belajar menghargai kenyataan. Ini bukan lah sama saat seseorang menolak perubahan. Tapi menyadari saat kehidupan memperlihatkan sisi lain dari yang kita alami.

Menanti kebaikan dengan bersabar, jauh lebih indah. Aku ingat, saat kau memberiku ucapan terima kasih, meski aku membalas diam dalam bibir. Kau tentu tak melihat jalan pikiranku. Aku membisu karena malu. Suaraku hanya bisa memekik di tenggorokan. Aku dilema melihat kau yang baik atau buruk. Saat dari jauh aku dengar teriakan sinismu. Aku takut sikapku akan membuatnya tak nyaman lagi. Lebih baik mendengar caciannya, dari pada melihat dia menyesal kerena berhubungan denganku. Aku akan tetap senang menjadi orang yang bisa membantumu.

Manusia butuh dihargai. Manusia butuh diakui keberadaanya. Aku ingin mengakui suatu hal yang mungkin tak ingin kau dengar. Aku ingin kau tahu perasaanku sebenarnya. Berikan aku waktu untuk mengatakan semuanya. Aku harap, engkau mau bersabar mendengarkan dan sedikit berbagi mengenaimu. Aku tak peduli kau akan menolak. Iya, meski aku akan menangis saat berada jauh darimu. Aku akui, aku senang bisa menjadi bagian dari hidupmu. Walau pun kehadiranku justru mengusik ketenanganmu. Aku minta maaf. Maaf telah membiarkanmu masuk dalam kehidupanku. Maaf karena aku menyayangimu. Ini aku adanya. Aku hanya bisa mencintaimu, sebatas usahaku untuk memuliakan sebuah hubungan agar lebih baik. Maukah kau memberitahu kepadaku siapa engkau?


Sumber Gambar :  twitter.com

Indahnya Saling Menghargai

Penalesia 

Apa anda pikir masalah itu perlu diatasi dengan cinta? Apa keberanian bagian dari cinta? Berani bukan berarti menunjukan sikap marahmu, tapi semangatmu. Cinta-keberanian-semangat, bersumber dari cinta. Jika kau pikir cinta itu perlu ditunjukan dengan kehalusan. Bagaimana saat nyamuk menggigitmu, lalu kau mau mengusirnya secara perlahan, kau tiupi nyamuk itu, atau kau sapu dengan tanganmu? Pernahkah kau tunjukan rasa cintamu untuk masalah yang bisa membuat terluka? Seperti kau meniup nyamuk agar pergi tanpa membuatnya tersakiti bahkan mati. Saat kau mampu melakukannya, kau akan diam dan tersenyum karena kau telah mengisi hidupmu dengan taburan cinta. Iya, mungkin saja ini mudah bagimu, bagaimana jika anjing yang mengigitmu? Apa perlu anda meniup atau menyapunya? Andai kau tidak yakin, apa yang mebuat anda takut terhadap manusia yang jelas punya akal dan hati saat dia tak suka padamu? Dekatilah dia jika kau cinta, hormatilah dia lebih dari nyamuk dan anjing. Jika kenyataannya dia adalah manusia yang punya cinta. Hormatialh dia dengan penghargaan sebagai manusia bukan binatang yang akan membuat kamu berteriak, bukan diam dan tersenyum? Tentu akan munafik, saat kau bersedih karena bahagia, tapi kau akan menangis karena “nyamuk” yang berakal dan berhati telah menggigitmu!
 Sumber Gambar : anggaba.blogspot.com

Selasa, 17 Maret 2015

Makhluk Tuhan yang Lucu






Kalimat ini yang pertama kali dibisikan hati. Entah apa yang membuatku tak mengatakan elok atau indah. Makhluk itu memang terlihat lucu. Membuatku tertawa saat melihatnya. Langkah lambatku dalam berkendara menjadi terasa lebih nyaman. Pengalaman saat itu membuatku takjub dan terpesona dengan karya Tuhan. Memang tak sempat aku memotretnya, namun ingatan itu masih membekas. Ingatan yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Dia amat menawan dalam pandangan sekilasku. Kau memang Luar Biasa Tuhan, kau Cipatakan makhluk dengan berjuta wujud. Hari itu dan sekarang, ayam kate itu memang lucu.


Sumber Gambar : omkicau.com
Copyright © 2015 Penalesia