Minggu, 08 Maret 2015

Putih Melati

Penalesia

Melati di senja pagi, kau sapa hari dengan memekar diri
Engkau taburkan semerbak wangimu untuk angin
Laksana daunmu yang putih, merayu lebah menjadi tersipuh
Andai kau mejelma menjadi manusia, maukah perempuan sebagai pilihanmu?
Tiada kerinduan yang menyusahkan hati, saat harum dari kekasih dirasa dekat
Indah dalam warnamu, namamu, kelopakmu, indah pula mengingatmu
Sesekali, dia memang berteriak saat memanggil. Tapi bukan berarti aku menganggapnya tak beradab. Aku hanya tak sempat datang lebih cepat. aku bisa saja berbalik berteriak, namun aku tak bisa. Setidaknya ini jalanku untuk bersyukur, karena telingaku masih dapat mendengar. Aku manusia biasa dan bukan yang terpandang. Jika kedekatanku bisa membaikan diri. Aku akan sangat senang. Senang bisa menjadi bagian dari kehidupannya. Aku mendengar, saat dia tertawa terbahak yang membuatku tak mengerti mengapa merindukannya ?. Aku tak bilang ini cinta. Kalian tahu, cinta hanya sedang merayu. Karena itu yang membuat aku merasa bimbang. Apa aku harus bilang jika ini di sengaja atau sebaliknya ?. cinta kerap datang tanpa aku minta.

Aku hanya berlalu diam saat terlihat dari caraku tak membalas ucapan terima kasihnya. Aku ingin terlihat biasa di depannya. Aku tak mau membuatnya terganggu dengan kehadiranku. Meski ini membuatku terbelenggu dan terkesan apatis terhadapnya . Apa dia mau bilang benci padaku ? aku akan senang jika mendengarnya. Aku tak banyak mengenal siapa dia. Kalau pun aku di minta untuk berbagi cerita mengenainya, aku katakan :

# Melati, aku senang, Tuhan memberi kedua orang tuamu seorang anak perempuan dengan fisik sempurna dan cantik
# Melati, kau hadir sebagai lain dari bunga, kau mampu bicara, tertawa, bahkan tersenyum

Jika suatu saat datang harimu untuk menyaksikan keindahan
Senang  rasanya bisa melihatmu bahagia
Entah kau sendiri yang membuat bahagia atau orang-orang di sekelilingmu
Aku tak banyak memperhatikanmu, kecuali hanya sekilas
Saat kau berjalan,
Berbicara,
Tertawa,
Berteriak tanpa memaki, “ Rok! Baro……k !!!”
“ Hmm, dua kali panggilanmu lebih penting dari teriakanmu.”…hihihi
Apalagi yang bisa aku dengar ? Cacianmu ataukah pujianmu ?
Bahkan, saat ketidaknyamananmu mengajariku untuk bersikap dewasa
Jujur aku tak mengerti
Aku tak mengerti, ketika bibirku terkunci untuk menyapamu, atau sekedar menanyai kabar
Kau cepat berlalu begitu saja
Memang, apa pedulimu dengan semua ini
Engkau berhak dengan sikapmu
Dan aku tak berhak memaksamu, meski aku harus menelan ludah yang mengelak
Aku tak bilang itu sebagai sikap kedewasaanmu
Kau Kejam atau sedang mempermainkanku, melati…
Mungkin, aku pantas di bilang pecundang sejati
Saat membiarkan ada jarak karena sikap diamku
Kau masih mau bicara? aku akan mendengarmu
Kau masih mau meminta bantuanku? aku akan membantumu
Kau masih mau di pesankan makanan ? aku akan datang menemui sebelum aku berpikir untuk mengirimimu sms
Siapa pun kau, kau memang lain dari bunga, galak, nyebelin, ngeselin, dingin, putih, cantik, dan juga nakal.


Sumber Gambar : bangdafi.com

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Penalesia