Cinta Permata Karang
Hampir aku tenggelam jauh dari permukaan, saat aku tak mampu menjangkau Karang yang tersembunyi dikedalaman. Tapi aku yakin, dengan aku berusaha, dalamnya lautan akan dapat aku capai. Lain ketika aku bersikeras menggali kedalaman hati Sang Karang, keyakinanku kian di hempas ombak, saat banyak yang lain dari pada aku berambisi mengejar permata yang ada dibalik penutup dari keberhargaanya menjaga pedoman.
Permata yang tak hanya aku mengidamkannya, diluar semua ini, para
pecinta permata terkesan dengan keberadaannya. Tapi, mungkin mereka semua
takut, ataukah mungkin mereka malu? Padahal mereka lebih pantas dari apa yang
aku kira, kenapa mereka tak mau maju mendekatinya?
Disitulah aku beranjak, merangkai sebuah perahu, meski dengan
keapaadaanya aku merakit untuk menyusunya menjadi kerangka. aku amat percaya
dan gila dengan perasaanku untuk dapat memilikinya. Namun, aku bertindak bodoh
dengan diri aku sendiri, yang lalai untuk menghargai kehidupan Karang di lautan
yang dapat aku berpijak diatasnya.
Aku melupakan sebuah hal yang tak semestinya bukan hanya kecintaan,
yang menjadi sebuah keharusan untuk mencintai Sang Karang, melainkan rasa
kepedulianku terhadap permata yang ada didalamnya, memberikan tanggung jawab
dengan menjaganya, dan menjadikan dia sebagai sandaran orang lain setelah dia
mampu membuat aku berdiri tegak dengan sejuta cinta yang aku pendam dan aku
rajut dalam ketidaktahuanku merangkai sebuah perahu, yang hanya terbalut oleh
kayu-kayu cinta, yang sebenarnya bukan hal utama yang dapat memberikan kekuatan
yang besar untuk mencapai sebuah tujuan, melainkan ketulusan dan kedewasaan
sebagai pelapis dari kerangka perahuku agar tak mudah karam diterjang ombak
untuk berhasil menggapai mimpi. Tapi, aku sangat menyesal. Saat aku mengabaikan
kesalahan atau kekeliruan kecil, yang sebenarnya dapat menjadi besar. Yaitu
secara tidak langsung, aku tengah merobohkan diriku yang sebelumya berdiri
kuat, dengan membiarkan perasaanku yang hanya terpaku oleh cinta, cinta dan
cinta pada Karang. Tanpa pernah memikirkan, jika sebenarnya perasaanku telah
membuat aku hanyut dalam derasnya gelora gelombang cinta yang aku rasakan.
Karena air kesedihan merembaskan perahuku tersenjang jauh dari harapan.
Sang Karang hanya diam dengan penderiannya yang
keras seperti awak Karang yang sesungguhnya. Aku menjadi orang yang sangat
bodoh, bodoh atas tindakanku menginginkan dia menjadi milikku.
Tidak sepatutnya aku mengusik Karang yang sedang menata diri. Lalu mengganggu
dia dari keterdiamannya menghasilkan permata, yang mampu menyinari dia dari
keterjauhannya dengan Sang induk. Iya, Karang itu tinggal dalam perantauan
untuk merajut permata yang berguna bagi kehidupan manusia. -permata
yang bercahaya. Tapi tidak membuat sesuatu
disekelilingnya terbakar-. Dia lugu, tak pernah aku melihat dia menutup
bibirnya untuk tidak tersenyum saat berjalan. Kebahagiaan seakan menghiasi
dirinya. Akupun jadi ikut merasakan aroma kebahagian itu, yang
menebar dimuka bumi. Seperti wangi mawar yang terkurung didalam gelembung
besar, lalu gelembung itu terpecah. Hingga kemudian angin menyapunya, dan aku
bisa menghirupnya sampai menyentuh relung kalbu.
Senyum Sang Karang yang tak sulit untuk dijadikan teori dalam
kehidupan pribadi. Ternyata cukup sulit saat aku menyertakan dalam praktik
kehidupan nyata. Praktik memang sulit
dari pada teori.
Aku
selalu mengingat senyum itu, senyum yang sederhana, namun membuat rumit saat
meilihatnya. Mungkin senyum mampu memberikan pengaruh yang besar bagi seseorang
yang sedang mengalami keadaan sesuatu. Kebesaran Tuhan tersirat diwajahnya.
Begitu sempurna Tuhan mencipatakan manusia digaris perbedaan. Satu dengan yang
lain, akan tampak perbedaan. Meski mereka semua sama mempunyai dua mata untuk
melihat, dua telinga untuk mendengar, bibir untuk tersenyum, dan hati yang
menjadikan dari beberapa Sang Karang dapat dikenali. Tapi, satu sama lain
perbedaan itu jelas tergambar. Seperti apa yang aku lihat. Ada Karang yang
cantik, manis, pemalu, lugu, atau bisa saja kaku. Disinilah aku mencoba
memahami makna dari mencintai dan mengagumi. Walaupun aku merasa masih
terlampau jauh untuk mengerti arti cinta
yang sebenarnya. aku harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini.
Sebagai manusia, yang pada hakikatnya tidak
mempunyai target dalam mencapai pengetahuan baru. Karena pada dasarnya pula
tidak ada hukum yang mutlak didunia ini, pasti akan mengalami perubahan dan
pembaharuan seiring berjalannya waktu, serta beberapa keadaan yang mengharuskan
adanya pencerahan.
Seperti menyelam sambil meminum air, kujalani keseharianku dalam
menimba ilmu didalam wadah pembelajaran(sekolah). Hanya saja, aku seperti tak
memperdulikan ketidakselarasan dalam ungkapan ini. Sebuah deretan kalimat yang
seharusnya tersusun dari kebaikan disaat aku
melakukan tindakan. Kata ini yang semestinya menjadikan aku sebagai makhluk
yang produktif. Menjadi runtuh, ketika aku tidak dapat keluar menyumbul
kepermukaan, menghirup udara segar dari keterhanyutanku menelan getir pahit,
merasakan kegagalan dalam mencari cinta sejati.
Entah karena perbedaan yang membuat Sang Karang menjauh, ataukah
hanya ketertutupan dia menyimpan permata yang tak akan ia lepas hanya untuk
menolong seseorang yang sedang melawan ombak kebimbangan ditengah luasnya laut daratan? Saat aku merasa tak layak
hidup didunia karena tidak adanya orang yang menemani. Meski Sang Karang
sadar, bahwa tidak pantas pula jika dia hanya berdiam diri dan membiarkan Aku
terhanyut. Hanya karena cinta yang menurutnya dapat menghidupakan aku kembali.
“Iya, aku sadar. hidup tidak mungkin hanya dengan mengandalkan
cinta. Tapi, bukankah akan jauh lebih indah jika cinta selalu mengiringi kehidupan?”.
Aku lemah, cinta
yang hilang dari Sang Karang telah mengamputasi
semangatku untuk bangkit sebagai seseorang yang selalu menjaga senyumnya, dari
keapaadaanya yang aku miliki. Hidupku kian terombang-ambing bak ombak menerjang
teluk, air laut itupun terpental menjauh. Aku merasa bukan diriku sendiri. Hati
yang dulu menyatu dengan jiwa, kini terasa terpenjara, terjerat dalam
kebingunganku membuka cakrawala baru dalam kehidupan. Seakan jalan tempuhku
terputus, tak ada kelanjutan jejak, seperti aku terdampar ditengah samudera
setelah aku mengarunginya, dari ketidakberdayaan aku menahan perihnya
kesedihan. Sang Karang yang dulu menyemangatiku untuk
tidak terjun ke jurang. Diatas tebing yang tinggi. Ia justru menjauh. Karena
pertolongan yang ia anggap adalah sebuah pertentangan yang dapat menjadikan dia
lupa dari pedomannya, sebagai Karang yang taat terhadap peraturan dan
pengabdiannya kepada keluarga, bangsa dan negara. Serta keyakinan dia sebagai
seorang muslim yang tunduk patuh terhadap atasan-Nya, yang telah menyerukan
kepada hambanya untuk tidak menuruti hawa nafsu.
...
Dimataku dia sosok wanita yang kuat terhadap prinsip keimanannya.
Dia juga amat kontruktif terhadap pendiriannya. Tidak sepatutnya jika aku
mencaci faham dan pendirian dia. kenapa aku harus marah hanya karena
ketidaksejajaran pemikiran aku yang saling berseberangan? Kenapa pula aku mesti
menghindar dan membencinya hanya karena beda pemahaman? Sungguh merupakan
sebuah kesalahan jika aku mencoba lari dari tanggung jawab untuk tidak mengakui
adanya perbedaan dalam hidup. Perbedaan seperti cermin, ia menjadikan aku
tertuntun untuk memilih dan melihat apa yang menjadi kekurangan aku. Perbedaan
menunjukan aku, betapa pentingnya menghargai seseorang, dengan perbedaan pula
dinamika hidup akan berjalan, yang melibatkan para pelakunya saling mengisi di
dalam kekurangan mereka masing-masing. -alangkah nikmat adanya perbedaan-.
“Menuntuntut adanya kesamaan?”
iya, aku anggap ini hal yang wajar, karena tak salah jika ketika pertemanan itu
terjalin karena adanya persamaan-persamaan. Tapi, bukan karena adanya perbedaan
lantas aku menentang saat terjadi ketidakselaraasan dalam mengungkapkan
pendapat, melainkan bagaimana aku bisa mensejajarkan dan menjadikan keseragaman
diantara perbedaan-perbedaan yang seharusnya timbul variasi hidup yang ternaung
di dalam kasih sayang bersama.
...
Cinta sebatas mata melihat awan, nampak dekat. Tapi sulit untuk
disentuh. Aku takan bisa hanya
berandai-andai dan menuruti perasaan saja. Karena itulah aku kerap egois,
arogan, dan agresif. Aku pikir Sang Karang akan lari, dan
aku takut ketika dia tersudut diantara para pecinta yang mempunyai banyak
peluang. Hatiku sepertinya rapuh, saat ketidaksanggupanku memiliki dia terus
merayapi. Bayang-bayang semu raut Sang Karang tak
mampu sepenuhnya aku sembunyikan. Sekalipun aku harus memejamkan mata. Berharap
agar tertidur dari kelelahan hatiku ini. Dia hadir begitu saja, terlintas dalam
benakku. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? aku merasa sepi, rindu, dan
kehilangan. Apakah cinta pula ada disaat aku
tengah merasakan kehilangan, Dan disaat aku
menginginkan kehadiran Sang Karang? Kepada siapa
aku harus bertanya. Menjelaskan kutipan hati yang selalu aku pertanyakan. Tuhan
memanglah lebih tahu, mana-mana yang tidak aku ketahui. Mungkin Tuhan punya
cara lain untuk memberitahuku. Tidak baik jika aku menebak-nebak, kemudian
mengartikan perasaanku selama ini kepada Sang Karang.
...
Gila, aku seperti
orang yang tak punya pilihan lain. Selain jalannya otakku untuk memutar tentang
dia. Berkhayal, berharap dia ada disampingku. Sebagai seseorang yang sudi
memberikan permata hatinya. Mungkin ini akan membuat aku menjadi bangga karena
pencapaian aku membuka mata hati Sang Karang. Tapi, ini
hanya sebagai omongan belaka. Tak bisa aku muat sebagai kenangan menggapai
mimpi didalam memori yang penuh dengan hal yang memilukan. Kedengarannya memang
ironi, jika masalah demi masalah digantung dengan kegagalan dan kekecewaan.
Sungguh aku sangat
cinta dan mengagumi dia. Jarak keterikatanku sebagai buruh ilmu kini berubah mengukir
waktu. Perjalanan menyongsong masa depan seakan menyurut. Aku lelah dengan
semua ini, mengagumi tanpa dicintai. Emm..mm, tapi, tak apalah itu hak dia.
Mencintai dan dicintai hak setiap orang. Menolakpun hak bagi setiap orang.
Tidak pantas jika aku merebut hak-haknya. Untuk kemudian aku paksa, agar dia
mau mencintaiku. Aku lebih memilih tidak dicintai dari pada dicintai karena keterpaksaan.
Meskipun aku tahu, rasa cinta bisa tumbuh dibalik cinta yang dilandasi
pemaksaan. Aku menyebutnya cinta yang datang dari buah pembiasaan. Sebuah
cinta yang datang dari pemaksaan dan muncul menjadi kebiasaan.
...
Lepas! Melepas masa lalu, mengubur setiap kenangan, yang indah saat
aku bisa tersenyum, yang dahsyat saat aku jatuh cinta, dan yang pahit saat
kedatanganku seperti membuat Sang Karang terusik. Akan tetapi, masa lalu itu
bagaikan aku sedang memendam hidup-hidup cacing tanah,
yang kapanpun dia bisa menyeruak keluar. Teringat masa lalu membawa perasaan
ini menyeret ke rasa bersalahku, kesedihanku, dan superiorku-disaat aku menjadi
orang hebat karena sifat egoisku-.
Aku harus bisa
menerima kenyataan, kenyataan akan suatu hal yang pasti berlalu seiring adanya
peretemuan. Aku tidak bisa jika selalu memaksakan diri, mendambakan semua
keinginan-keinginanku dapat tercapai. Masa lalu yang seharusnya menjadi
pelajaran untukku, bukan penyesalan yang berkepanjangan atas
kegagalan-kegagalanku. Masa lalulah tempat pijakan untuk aku belajar, menyetir
keadaan saat ini ketika terjadi penyimpangan. Dengan begini aku bisa bersehabat
dengan masa laluku. aku tidak menyesal
jatuh cinta dengan Sang Karang, mencintai dia
adalah bahagia untukku. -Bahagia dia, bahagiaku-. Aku harus bisa bangkit, untuk
dapat mengarungi kembali kehidupan, yang sempat membuatku terhanyut. Kini
saatnya aku berdiri, berpijak dipermukaan padat tak seperti air, inilah yang
aku sebut laut daratan. Sebuah planet yang mengizinkanku
untuk hidup dan bertempat tinggal, bersama perbedaan yang menyatukan dengan
khalayak. Manusia adalah perasaan dan pikiran bumi. Jika perasaan dan pikiran
manusia tak teratur dan terarah, bumi takan lagi merasakan cinta dari manusia, laut takan lagi menghisap air mata kasih
sayang. Permata yang adapun tak akan bisa tumbuh dengan sempurna. Sang Karang
yang tak bisa lagi aku impikan, dan aku inginkan untuk aku miliki. Tetaplah
harus aku kenal dan aku jaga sebagai anugerah terindah yang Tuhan ciptakan.
Meski sesaat ia hadir dalam kehidupan. Bumi,
Manusia, Cinta, harus dapat aku jaga, sebagaimana aku berusaha menjaga cinta
permata Karang .⃰ End
Sumber Gambar : distrohaydar.com

0 komentar:
Posting Komentar