Minggu, 15 Maret 2015

Cinta Permata Karang

Penalesia          

          Hampir aku tenggelam  jauh dari permukaan, saat aku tak mampu menjangkau Karang yang tersembunyi dikedalaman. Tapi aku yakin, dengan aku berusaha, dalamnya lautan akan dapat aku capai. Lain ketika aku bersikeras menggali kedalaman hati Sang Karang, keyakinanku kian di hempas ombak, saat banyak yang lain dari pada aku berambisi mengejar permata yang ada dibalik penutup dari keberhargaanya menjaga pedoman.
Permata yang tak hanya aku mengidamkannya, diluar semua ini, para pecinta permata terkesan dengan keberadaannya. Tapi, mungkin mereka semua takut, ataukah mungkin mereka malu? Padahal mereka lebih pantas dari apa yang aku kira, kenapa mereka tak mau maju mendekatinya?
Disitulah aku beranjak, merangkai sebuah perahu, meski dengan keapaadaanya aku merakit untuk menyusunya menjadi kerangka. aku amat percaya dan gila dengan perasaanku untuk dapat memilikinya. Namun, aku bertindak bodoh dengan diri aku sendiri, yang lalai untuk menghargai kehidupan Karang di lautan yang dapat aku berpijak diatasnya.
Aku melupakan sebuah hal yang tak semestinya bukan hanya kecintaan, yang menjadi sebuah keharusan untuk mencintai Sang Karang, melainkan rasa kepedulianku terhadap permata yang ada didalamnya, memberikan tanggung jawab dengan menjaganya, dan menjadikan dia sebagai sandaran orang lain setelah dia mampu membuat aku berdiri tegak dengan sejuta cinta yang aku pendam dan aku rajut dalam ketidaktahuanku merangkai sebuah perahu, yang hanya terbalut oleh kayu-kayu cinta, yang sebenarnya bukan hal utama yang dapat memberikan kekuatan yang besar untuk mencapai sebuah tujuan, melainkan ketulusan dan kedewasaan sebagai pelapis dari kerangka perahuku agar tak mudah karam diterjang ombak untuk berhasil menggapai mimpi. Tapi, aku sangat menyesal. Saat aku mengabaikan kesalahan atau kekeliruan kecil, yang sebenarnya dapat menjadi besar. Yaitu secara tidak langsung, aku tengah merobohkan diriku yang sebelumya berdiri kuat, dengan membiarkan perasaanku yang hanya terpaku oleh cinta, cinta dan cinta pada Karang. Tanpa pernah memikirkan, jika sebenarnya perasaanku telah membuat aku hanyut dalam derasnya gelora gelombang cinta yang aku rasakan. Karena air kesedihan merembaskan perahuku tersenjang jauh dari harapan.
Sang Karang hanya diam dengan penderiannya yang keras seperti awak Karang yang sesungguhnya. Aku menjadi orang yang sangat bodoh, bodoh atas tindakanku menginginkan dia menjadi milikku. Tidak sepatutnya aku mengusik Karang yang sedang menata diri. Lalu mengganggu dia dari keterdiamannya menghasilkan permata, yang mampu menyinari dia dari keterjauhannya dengan Sang induk. Iya, Karang itu tinggal dalam perantauan untuk merajut permata yang berguna bagi kehidupan manusia. -permata yang bercahaya. Tapi tidak  membuat sesuatu disekelilingnya terbakar-. Dia lugu, tak pernah aku melihat dia menutup bibirnya untuk tidak tersenyum saat berjalan. Kebahagiaan seakan menghiasi dirinya. Akupun jadi ikut merasakan aroma kebahagian itu, yang menebar dimuka bumi. Seperti wangi mawar yang terkurung didalam gelembung besar, lalu gelembung itu terpecah. Hingga kemudian angin menyapunya, dan aku bisa menghirupnya sampai menyentuh relung kalbu.
Senyum Sang Karang yang tak sulit untuk dijadikan teori dalam kehidupan pribadi. Ternyata cukup sulit saat aku menyertakan dalam praktik kehidupan nyata. Praktik memang sulit dari pada teori.
Aku selalu mengingat senyum itu, senyum yang sederhana, namun membuat rumit saat meilihatnya. Mungkin senyum mampu memberikan pengaruh yang besar bagi seseorang yang sedang mengalami keadaan sesuatu. Kebesaran Tuhan tersirat diwajahnya. Begitu sempurna Tuhan mencipatakan manusia digaris perbedaan. Satu dengan yang lain, akan tampak perbedaan. Meski mereka semua sama mempunyai dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, bibir untuk tersenyum, dan hati yang menjadikan dari beberapa Sang Karang dapat dikenali. Tapi, satu sama lain perbedaan itu jelas tergambar. Seperti apa yang aku lihat. Ada Karang yang cantik, manis, pemalu, lugu, atau bisa saja kaku. Disinilah aku mencoba memahami makna dari mencintai dan mengagumi. Walaupun aku merasa masih terlampau jauh untuk mengerti arti cinta  yang sebenarnya. aku harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Sebagai manusia, yang pada hakikatnya tidak mempunyai target dalam mencapai pengetahuan baru. Karena pada dasarnya pula tidak ada hukum yang mutlak didunia ini, pasti akan mengalami perubahan dan pembaharuan seiring berjalannya waktu, serta beberapa keadaan yang mengharuskan adanya pencerahan.
Seperti menyelam sambil meminum air, kujalani keseharianku dalam menimba ilmu didalam wadah pembelajaran(sekolah). Hanya saja, aku seperti tak memperdulikan ketidakselarasan dalam ungkapan ini. Sebuah deretan kalimat yang seharusnya tersusun dari kebaikan disaat aku melakukan tindakan. Kata ini yang semestinya menjadikan aku sebagai makhluk yang produktif. Menjadi runtuh, ketika aku tidak dapat keluar menyumbul kepermukaan, menghirup udara segar dari keterhanyutanku menelan getir pahit, merasakan kegagalan dalam mencari cinta sejati.
Entah karena perbedaan yang membuat Sang Karang menjauh, ataukah hanya ketertutupan dia menyimpan permata yang tak akan ia lepas hanya untuk menolong seseorang yang sedang melawan ombak kebimbangan ditengah luasnya laut daratan? Saat aku merasa tak layak hidup didunia karena tidak adanya orang yang menemani. Meski Sang Karang sadar, bahwa tidak pantas pula jika dia hanya berdiam diri dan membiarkan Aku terhanyut. Hanya karena cinta yang menurutnya dapat menghidupakan aku kembali.
“Iya, aku sadar. hidup tidak mungkin hanya dengan mengandalkan cinta. Tapi, bukankah akan jauh lebih indah jika cinta selalu mengiringi kehidupan?”.
            Aku lemah, cinta yang hilang dari Sang Karang telah mengamputasi  semangatku untuk bangkit sebagai seseorang  yang selalu menjaga senyumnya, dari keapaadaanya yang aku miliki. Hidupku kian terombang-ambing bak ombak menerjang teluk, air laut itupun terpental menjauh. Aku merasa bukan diriku sendiri. Hati yang dulu menyatu dengan jiwa, kini terasa terpenjara, terjerat dalam kebingunganku membuka cakrawala baru dalam kehidupan. Seakan jalan tempuhku terputus, tak ada kelanjutan jejak, seperti aku terdampar ditengah samudera setelah aku mengarunginya, dari ketidakberdayaan aku menahan perihnya kesedihan. Sang Karang yang dulu menyemangatiku untuk tidak terjun ke jurang. Diatas tebing yang tinggi. Ia justru menjauh. Karena pertolongan yang ia anggap adalah sebuah pertentangan yang dapat menjadikan dia lupa dari pedomannya, sebagai Karang yang taat terhadap peraturan dan pengabdiannya kepada keluarga, bangsa dan negara. Serta keyakinan dia sebagai seorang muslim yang tunduk patuh terhadap atasan-Nya, yang telah menyerukan kepada hambanya untuk tidak menuruti hawa nafsu. 

   ...

Dimataku dia sosok wanita yang kuat terhadap prinsip keimanannya. Dia juga amat kontruktif terhadap pendiriannya. Tidak sepatutnya jika aku mencaci faham dan pendirian dia. kenapa aku harus marah hanya karena ketidaksejajaran pemikiran aku yang saling berseberangan? Kenapa pula aku mesti menghindar dan membencinya hanya karena beda pemahaman? Sungguh merupakan sebuah kesalahan jika aku mencoba lari dari tanggung jawab untuk tidak mengakui adanya perbedaan dalam hidup. Perbedaan seperti cermin, ia menjadikan aku tertuntun untuk memilih dan melihat apa yang menjadi kekurangan aku. Perbedaan menunjukan aku, betapa pentingnya menghargai seseorang, dengan perbedaan pula dinamika hidup akan berjalan, yang melibatkan para pelakunya saling mengisi di dalam kekurangan mereka masing-masing. -alangkah nikmat adanya perbedaan-.
Menuntuntut adanya kesamaan?” iya, aku anggap ini hal yang wajar, karena tak salah jika ketika pertemanan itu terjalin karena adanya persamaan-persamaan. Tapi, bukan karena adanya perbedaan lantas aku menentang saat terjadi ketidakselaraasan dalam mengungkapkan pendapat, melainkan bagaimana aku bisa mensejajarkan dan menjadikan keseragaman diantara perbedaan-perbedaan yang seharusnya timbul variasi hidup yang ternaung di dalam kasih sayang bersama. 

                                                        ...

Cinta sebatas mata melihat awan, nampak dekat. Tapi sulit untuk disentuh. Aku takan bisa  hanya berandai-andai dan menuruti perasaan saja. Karena itulah aku kerap egois, arogan, dan agresif. Aku pikir Sang Karang akan lari, dan aku takut ketika dia tersudut diantara para pecinta yang mempunyai banyak peluang. Hatiku sepertinya rapuh, saat ketidaksanggupanku memiliki dia terus merayapi. Bayang-bayang semu raut Sang Karang tak mampu sepenuhnya aku sembunyikan. Sekalipun aku harus memejamkan mata. Berharap agar tertidur dari kelelahan hatiku ini. Dia hadir begitu saja, terlintas dalam benakku. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? aku merasa sepi, rindu, dan kehilangan. Apakah cinta pula ada disaat aku tengah merasakan kehilangan, Dan disaat aku menginginkan kehadiran Sang Karang? Kepada siapa aku harus bertanya. Menjelaskan kutipan hati yang selalu aku pertanyakan. Tuhan memanglah lebih tahu, mana-mana yang tidak aku ketahui. Mungkin Tuhan punya cara lain untuk memberitahuku. Tidak baik jika aku menebak-nebak, kemudian mengartikan perasaanku selama ini kepada Sang Karang. 

...      

            Gila, aku seperti orang yang tak punya pilihan lain. Selain jalannya otakku untuk memutar tentang dia. Berkhayal, berharap dia ada disampingku. Sebagai seseorang yang sudi memberikan permata hatinya. Mungkin ini akan membuat aku menjadi bangga karena pencapaian aku membuka mata hati Sang Karang. Tapi, ini hanya sebagai omongan belaka. Tak bisa aku muat sebagai kenangan menggapai mimpi didalam memori yang penuh dengan hal yang memilukan. Kedengarannya memang ironi, jika masalah demi masalah digantung dengan kegagalan dan kekecewaan.
            Sungguh aku sangat cinta dan mengagumi dia. Jarak keterikatanku sebagai buruh ilmu kini berubah mengukir waktu. Perjalanan menyongsong masa depan seakan menyurut. Aku lelah dengan semua ini, mengagumi tanpa dicintai. Emm..mm, tapi, tak apalah itu hak dia. Mencintai dan dicintai hak setiap orang. Menolakpun hak bagi setiap orang. Tidak pantas jika aku merebut hak-haknya. Untuk kemudian aku paksa, agar dia mau mencintaiku. Aku lebih memilih tidak dicintai dari pada dicintai karena keterpaksaan. Meskipun aku tahu, rasa cinta bisa tumbuh dibalik cinta yang dilandasi pemaksaan. Aku menyebutnya cinta yang datang dari buah  pembiasaan. Sebuah cinta yang datang dari pemaksaan dan muncul menjadi kebiasaan. 

...

Lepas! Melepas masa lalu, mengubur setiap kenangan, yang indah saat aku bisa tersenyum, yang dahsyat saat aku jatuh cinta, dan yang pahit saat kedatanganku seperti membuat Sang Karang terusik. Akan tetapi, masa lalu itu bagaikan aku sedang memendam hidup-hidup cacing tanah, yang kapanpun dia bisa menyeruak keluar. Teringat masa lalu membawa perasaan ini menyeret ke rasa bersalahku, kesedihanku, dan superiorku-disaat aku menjadi orang hebat karena sifat egoisku-.
            Aku harus bisa menerima kenyataan, kenyataan akan suatu hal yang pasti berlalu seiring adanya peretemuan. Aku tidak bisa jika selalu memaksakan diri, mendambakan semua keinginan-keinginanku dapat tercapai. Masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran untukku, bukan penyesalan yang berkepanjangan atas kegagalan-kegagalanku. Masa lalulah tempat pijakan untuk aku belajar, menyetir keadaan saat ini ketika terjadi penyimpangan. Dengan begini aku bisa bersehabat dengan masa laluku. aku tidak menyesal jatuh cinta dengan Sang Karang, mencintai dia adalah bahagia untukku. -Bahagia dia, bahagiaku-. Aku harus bisa bangkit, untuk dapat mengarungi kembali kehidupan, yang sempat membuatku terhanyut. Kini saatnya aku berdiri, berpijak dipermukaan padat tak seperti air, inilah yang aku sebut laut daratan. Sebuah planet yang mengizinkanku untuk hidup dan bertempat tinggal, bersama perbedaan yang menyatukan dengan khalayak. Manusia adalah perasaan dan pikiran bumi. Jika perasaan dan pikiran manusia tak teratur dan terarah, bumi takan lagi merasakan cinta dari manusia,  laut takan lagi menghisap air mata kasih sayang. Permata yang adapun tak akan bisa tumbuh dengan sempurna. Sang Karang yang tak bisa lagi aku impikan, dan aku inginkan untuk aku miliki. Tetaplah harus aku kenal dan aku jaga sebagai anugerah terindah yang Tuhan ciptakan. Meski sesaat ia hadir dalam kehidupan. Bumi, Manusia, Cinta, harus dapat aku jaga, sebagaimana aku berusaha menjaga cinta permata Karang . End


Sumber Gambar : distrohaydar.com

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Penalesia