Sabtu, 14 Maret 2015

Secangkir Teh Manis untuk Cinta

Penalesia

Bukan. Bukan itu. Kekayaan hanya nyaris menjadikan seseorang lemah untuk mensyukuri nikmat. Baginya, bisa saja ada yang di banggakan. Apa pantas juga aku sebut itu sebagi hal yang membanggakan ? Saat di rasa  kedudukan di pandang sebagai hal pembeda. Itu memang sah. Aku tak perlu menyebutnya pemisah dari yang rendah dan lemah. Sikap seseorang yang membuat keadaan menjadi pribadi yang apatis, bahkan tirani yang menyiksa. Aku yakin, bukan kaya atau miskin yang mempengaruhi seseorang menjadi angkuh kepada sesama. Apa yang mereka lihat mengenai perbedaan ? Aku hanya senang membantu sesama. Melayani setiap hal yang menjadi tanggung jawabku.
Masih pagi, saat pekerjaan awal selesai. Kini giliranku mendengar Tuhan bicara rasa syukur. Jika yang dekat atau jauh masih dapat aku tempuh dengan kemauan. Apa yang patut aku sembunyikan dari segenap tenaga dan nikmat sehat yang tengah aku rasakan ? Melangkah. Sedikit lagi. Masih bisa. Aku pun sanggup. Aku mengulur tangan untuk sebuah hidangan Tuhan. Manusia yang sudah aku sebut teman.
Sepintas berbicara memohon di sajikan minuman.
” Aku pesan kopi “
” Aku teh manis “
” Aku air putih “
” Aku gelasnya saja ” teriak salah satu dari yang lain
” Aku minta sendok dan garpu….”
Sepertinya terdengar mudah. Ku hanya perlu menyiapkan, lalu mengantarkannya.
” Tidak ” seru batinku
” Bagaimana dengan cinta ?”
Aku mulai berpikir. Apa pentingnya cinta untuk sebuah pekerjaan sebagai pelayan ?
Setiap manusia memang di tunjuk sebagai pelayan. Namun, pelayan yang mengerti keinginan sendiri atau kesedaran diri sebagai pengabdian.
Apa yang aku dapatkan dengan menyodorkan sebuah pesanan dengan rasa benci dan amarah. Aku hanya butuh perasaan yang di anggap membahagiakan. Hingga pada saatnya, aku siap menyajikan sesuatu dengan cinta. Seperti secangkir teh manis yang di pesan.

Aku siap belajar untuk mencintai sesama.


Sumber Gambar :  kutalkutil.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Penalesia