Secangkir Teh Manis untuk Cinta
Masih pagi, saat pekerjaan awal selesai. Kini giliranku mendengar Tuhan bicara rasa syukur. Jika yang dekat atau jauh masih dapat aku tempuh dengan kemauan. Apa yang patut aku sembunyikan dari segenap tenaga dan nikmat sehat yang tengah aku rasakan ? Melangkah. Sedikit lagi. Masih bisa. Aku pun sanggup. Aku mengulur tangan untuk sebuah hidangan Tuhan. Manusia yang sudah aku sebut teman.
Sepintas berbicara memohon di sajikan minuman.
” Aku pesan kopi “
” Aku teh manis “
” Aku air putih “
” Aku gelasnya saja ” teriak salah satu dari yang lain
” Aku minta sendok dan garpu….”
Sepertinya terdengar mudah. Ku hanya perlu menyiapkan, lalu mengantarkannya.
” Tidak ” seru batinku
” Bagaimana dengan cinta ?”
Aku mulai berpikir. Apa pentingnya cinta untuk sebuah pekerjaan sebagai pelayan ?
Setiap manusia memang di tunjuk sebagai pelayan. Namun, pelayan yang mengerti keinginan sendiri atau kesedaran diri sebagai pengabdian.
Apa yang aku dapatkan dengan menyodorkan sebuah pesanan dengan rasa benci dan amarah. Aku hanya butuh perasaan yang di anggap membahagiakan. Hingga pada saatnya, aku siap menyajikan sesuatu dengan cinta. Seperti secangkir teh manis yang di pesan.
Aku siap belajar untuk mencintai sesama.
Sumber Gambar : kutalkutil.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar