Minggu, 22 Maret 2015

KETIKA HATI MEMILIH

 

Siapa yang menyangka?

Dibalik hal biasa, aku menemukan cahaya baru

Bukan aku yang meminta, tapi hati seperti yang memohonnya

Apa ia akan enggan?

Rinduku seperti tak tertahan

Rindu yang kerap mengetuk – ngetuk relung hati

Hingga tawa menyatu dengan pilu

Tersenyum memikirkanmu

Terharu mengharapkanmu dalam do’a

Nafas ini terasa menggebu karena aku coba menahannya

Bagaimana ini terjadi?

Bayang wajahmu selalu menyertaiku

Engkau pula ada dalam tasbihku

Engkau pula hadir menjelang tidurku

Andai benar rasa ini yang Tuhan mau

Biarkan cinta ini terjaga suci

Ya Allah, Engkau yang menggenggam hati setiap makhluk

Engkau yang Kuasa membuka dan memberinya cahaya

Engkau penguasa hati dan cinta

Sekeras apapun hamba meminta

Setangguh apapun hamba menolaknya

Engkau yang memberi Izin

Ya Tuhan, izinkan hamba jatuh cinta pada makhluk ciptaan-Mu

Izinkan hamba merawatnya agar tetap terjaga kesuciannya

Engkau Tahu, siapa yang sedang hamba pikirkan

Siapa yang sedang hamba rindukkan

Siapa yang sedang hamba harapkan saat ini

Jaga perempuanku Tuhan, jika rasa ini yang Engkau hendaki

 

Ya Allah, Jauhkan diriku dari keraguan dan kemunafikkan

Karena hati ini telah memilihnya. Aamin…

 

 

Sumber Gambar : bilikmakna.wordpress.com

Namamu

Penalesia
 
Dan serasa kau memanggil dari jarak dekat
Kau seperti tak ingin menggangunya
Cinta ? atau Sayang….
Siapa nama kekasihmu?
Sungguh indah, saat kau berjalan dan berlari hanya nama dia yang kau ingat
Siapa orang pertama yang kau perhatikan?
Matamu seperti menatap teman disampingmu, namun pikiranmu tertuju padanya
Bukankah kau ingat? Setiap gerik, tawa dan senyummu ada harapan untuknya
Rasa yang kau sebut cinta bisa menjadi mimpi atau kenyataan
Hanya saat kau memilih diam atau berani mengatakannya
Biarkan dunia tak perlu tahu siapa orang yang kau cintai, tapi jaga dalam hatimu nama seseorang yang selalu kau ingat
Tanyakan, siapa orang yang selalu kau ingat?
Sebutkan, siapa nama yang kau dahulukan dalam pikiranmu?
Dengar, aku seperti dirimu
Kau takut mengatakan cinta, kau takut memintanya menjadi kekasih
Hanya karena kau baru mengenalnya dan tahu dia dimiliki
Padahal, siapa nama seseorang yang sukar kau jauhkan dari pikiranmu?
Yakinkan jika sulit dia anggap kau mencintainya, dengarkan saja apa kata hatimu
Iya, itu yang akan aku lakukan ! Mendengar hati menyebut namanya dan kita sadar hanya nama dia yang kita ingat
“Aku tak pernah berpikir akan mencintaimu bahkan akan sering mengingat namamu, tapi itulah yang aku rasakan sekarang. Hatiku memanggil namamu!”. Ini yang akan aku katakan padanya.


Sobat, apa yang akan kamu katakan….?
 
 
Sumber Gambar : marchiafanfiction.wordpress.com

























Tanyakan pada Daun

 
Daun,
Apa kamu menangis lirih saat jatuh dari tangkaimu hingga aku tak bisa mendengar suara tangismu?
Atau,
Kau justru tersenyum karena itu Rencana Indah dari Tuhan untukmu?
Aku pernah melihat kamu terjatuh saat masih menghijau
Apa kamu tak kuat lagi berpegangan sampai kamu menua dan mulai berubah warna?
Maaf,
Kalau saja aku mendengar saat kamu jatuh dari tangkaimu, aku akan senang jika ternyata kamu girang karena tahu itu hanyalah Rencana Indah dari Tuhan
Tapi,
Aku tetaplah menjadi lemah saat tangan-tangan manusia yang membuat kamu berteriak keras
Kau runtuhkan tanah ketika sudah menompang kuat
Kau hanyutkan rumah dengan air ketika sudah mengalir tenang
Dengarkan saja tangismu, biar Tuhan yang membalasnya pada mereka yang salah
Rumahmu,
Akan indah dengan kelahiranmu

Daun,
Jatuhlah dengan bangga seperti yang sudah kamu lakukan karena aku akan menirunya
Manusia memang rakus dan kejam
Tapi hanya terkadang saat seperti dirimu
Masih ada yang beradab dan mencintaimu

Daun,
Aku minta maaf tak bisa menjagamu sepenuhnya
Aku ingin kita sama-sama tahu
Rencana Tuhan akan selalu Indah pada akhirnya
#MariCintaiTanaman
 
Sumber Gambar : filsafat.kompasiana.com





























Tapi Hatimu


Memang bukan karena matamu
Bukan karena senyum manismu
Bukan pula karena lentik jemarimu
Ingin rasanya aku bergurau, kalau kalau wajahmu jelek
Dengar,
Bukan karena cantik wajahmu yang membuat hatiku berdebar
Melainkan hatimu yang membuatnya
Hatimu yang akan aku tunjuk jika kamu bertanya
Bagaimana aku menjauhkanmu dari piiranku?
Sementara bayang wajahmu ada dalam benak
Bagaimana aku mencelamu?
Sementara cinta ini memandang jauh ke hatimu
Aku bisa saja lari menjauhimu,
Tapi bisakah kau jauhkan rasa cinta yang sudah Tuhan titipkan kepada hati?

Rasa ini yang membuat kamu dekat
Rasa ini yang membuat aku melihat hatimu
Karena hatiku, untukmu…
 
Sumber Gambar : berbagitulisan.wordpress.com


















INISIAL

 
Tentu, sama seperti yang kau katakan
Orang berhak menilai
Saat kau sebagai putih
Dan saat kau sebagai hitam
Kau ingin tetap dengan warnamu
Ketika ada sangkaan mengenai kita
Boleh jadi kita hanya tahu dari yang lain
Lalu kita iyakan, Karena kita merasa berhak
Aku mendekat, tertawa dan terlihat akrab pada yang lain
Seperti aku tak harus menyebut kau menginginkan semua,
Menginginkan cinta dari banyak orang,
Ingin memiliki semua yang kau mau,
Hingga perlahan aku menghinakanmu?
Hanya karena kau tengah berkumpul dengan sahabat dan teman lawan jenis
Kita sadar, kita tak akan sepenuhnya tahu satu sama lain
Kita hanya butuh mengerti dan hati yang bijak dengan keadaan yang berubah-ubah
Saat raga dan tawa ini dekat selain denganmu
Itu tak sama saat rasa cinta dan setia dalam hatimu selalu kau jaga untuk orang yang kau sayangi
Karena itu yang aku lakukan untukmu
Itu yang aku lakukan
Aku membutuhkan sosok yang mau saling menjaga
Betul, masih dini aku bilang mencintaimu, aku memilihmu karena ada dorongan
Aku merasa ingin menjadi lebih baik, menata diri dan belajar saling menjaga sikap
Rasa ini yang aku temukan saat melihatmu
Kita tak bisa membantah kecantikan rupa yang Allah titipkan pada wajah perempuan
Kita tak bisa menggerutu kekurangan fisik yang Allah tunjukan pada diri insan
Kita tak bisa mengelak saat Allah anugerahkan cinta dalam hati seseorang
Kau yang nilai, apa ini terdengar seperti perkataan orang sedang jatuh cinta?
Aku hanya suka memikirkanmu dan ingin menjadi orang yang menjagamu
Maka rasa ini yang aku turuti, memilihmu untuk saling menjaga bukan karena cinta semata
Tapi karena niat dan anjuran agamaku, ini yang membuat aku reda
Aku berharap, kau memilih seseorang karena agama dan niatan yang baik pula
Kau pun menolak seseorang karena agama dan niat yang baik
Maaf, kalau aku menyukaimu, Lavenderlious
 
Sumber Gambar : ngulik.co




































Ini Aku Adanya


Kau takut aku melukaimu?
Kau takut aku mencampakanmu?
Kau takut aku mendustakanmu?
Sempatkah kita berpikir, kita akan saling bertanya tentang ini?
Kita bahkan belum saling mengenal
Terlebih, kita tak pernah tahu rencana Indah dari Tuhan
Apa ada yang membuat kamu merasa tak nyaman?
Maafkan aku, ajak aku membicarakan ini
Aku ingin bisa dekat denganmu
Mohon, jangan menjauh hanya karena rasa takut dari yang tidak kita tahu
Cinta, seperti ini aku adanya
 
Sumber Gambar : mediamakna.blogspot.com












Dia #2

 

Tangisan bukan hanya mengatakan terlalu berat ditinggal pergi seseorang
Kau pun akan menangis saat rindu yang tak terjamah hanya karena rasa takut
Bahkan rasa tak pantas dalam diri, enggan lalu jenuh
Untuk apa menjerit ?
Untuk apa melangkah dengan sejuta belenggu?
Seperti mata tak berani menatap, namun hati menggerutu keras
Bukankah indah dan menyenangkan,
melihat seseorang yang kau cintai tengah duduk dihadapanmu
Pikiranmu seakan rusak, tak lagi kuasa memandang wajahnya
Hatimu justru menolak menatapnya lantaran kau takut jatuh cinta terlalu dalam
Cinta tak peduli dengan si miskin dan si kaya
Cinta tak menjadi budak bagi seorang Raja
Inilah yang tengah aku rasakan, menjadi orang yang lemah sekaligus kuat
Dia? Apa kamu mau mengakui?
Aku hanya satu dari sekian orang yang kamu cinta dan benci
Karena,
Kamu pula satu dari sekian orang yang aku cinta dan benci
Sekarang, tak ada persembahan yang baik dari tangan kanan dan kiriku untukmu
Semoga rasa jujur ini menjadi penggantinya
Jujur,
Aku cinta saat terus belajar menahan diri untuk tak lama memandangmu
Meski dari kejauhan
Aku benci saat hatiku mamaksa dan meminta untuk lekas memohon kepadamu
Entah siapa yang harus sadar? Aku hanya tak ingin melukainya
Memandangnya tengah duduk, berjalan, berbicara dan senyum hangatnya
Aku merasa sadar benar, bahwa aku telah menjadi orang yang selalu gagal
Aku gagal berhenti memperhatikan dan mengharapakannya
Andaikan pintu mampu membisikan tentang jemari manisnya,
Tangga merekam langkah anggunnya,
Dan hijab yang menjadi pengenal baginya
Apa akan pantas untuk sebuah permohonan ? Rasanya Tidak !
Dia dan kekasihnya seperti sudah menjadi pasangan erat
Dari sisi mana aku harus memulainya,
Menyatakan diriku untuk menjadi pangeran hatinya
Iya, seperti itu rasanya jatuh cinta
Rindu, Rasa cemas dan Tangis
Dan satu hal yang membuat Aku benar-benar merasa terpenjara
Aku ini siapa ???
“Entahlah, aku hanya merasa ingin menjadi lebih baik saat mengenalnya”


Sumber Gambar : www.alsc.ala.org








































Berhenti Berharap



Penalesia

Aku  tak  berpikir  akan  mengirim surat  ini  sebelumnya.  Aku  merasa  lelah  dengan  keberadaanku.  Seperti  saat  aku  bersikap acuh  dihadapan   seseorang . menjauh   untuk tak memulai sebuah  pembicaraan  . Dia tentu tahu,  itu  bukan  cara  yang  tepat  untuk  menjalin   sebuah  pertemanan. Entah, kenapa  aku  suka  memilih   bersikap  seperti  itu?

Ada saat  dimana  aku  harus  memahami seseorang.  Ada saat  dimana  aku  merasa tak  berhak  mengenal  seseorang. Aku memang  bukan  orang  yang penting  untuk  dipandang. Aku  hanya ingin  seseorang  tahu  persoalan kecil ini yang kerap membuatku  bimbang. Apa  yang  sebenarnya dirasa  sakit dari  sebuah  pertemuan ? Boleh  jadi, ini  sekedar  prasangka saja. Iya, prasangka yang membuatku bingung. Aku masih ingat, saat  ada  perasaan  yang belum  aku  mengerti . Seakan  aku  hidup  menjadi  orang  lain. Mengasingkan  diri atau  tampil  penuh  percaya diri. Seolah aku  akan  menjadi  pusat  perhatian. Apa  yang  pantas  untuk aku  sebut  perasaan  semacam  ini? Egokah aku? Sombongkah aku? atau justru ini  sikap bijakku?

Aku berusaha untuk  menjadi seseorang tak  terlalu memaksakan diri. Ternyata, itu sulit. sesulit aku memisahkan  rindu dari  kebincian terhadap  seseorang. Bukankah selaras, antara kebencian  dengan  melupakan  sesuatu? jika benar  rasa  rindu  itu adalah cinta  yang  sederhana. Ya Tuhan, bagaiman mungkin kebencianku  sebagai sebab rasa rindu ini?. Aku benci  seseorang  itu. Rasa benci  yang  tak  seharusny  ada. Bahkan, rasa  rindu  dan  cinta  yang  memang tak semestinya ada. Aku  hanya ingin  titik  tengah  diantara  cinta  dan  kebencian. Tiada perasaan  merindu, tiada  pula membenci.

Aku akui, aku  orang yang  tak  pandai  bergaul  dengan  lingkungan  yang  aku anggap  berbeda  dengan  watak  dan  karakterku.  Memang, adanya  perbedaan  alasan  seseorang untuk  memilih. Lantas, apa  arti  menuntut persamaan? satu  sama  lain  manusia  tak  ada  yang  sama. Mereka  punya cara  hidup  dan  jalannya  masing-masing.

Meraka yang  kaya,  jahat, penindas, penyela, dan  butuh  Tuhan.
Meraka yang kaya,  baik,  penolong,  penyantun,  dan  butuh  Tuhan.
Meraka yang  miskin, gengsi,  apatis,  dan  butuh  Tuhan.
Meraka yang  miskin, legowo, akur, dan butuh  Tuhan.
Dan meraka yang sama sekali tidak  butuh  Tuhan.

Setiap  orang  butuh  kebaikan  tanpa  berpikir  adanya Tuhan.  setiap  orang butuh  dihargai. Setiap  orang  butuh  dimengerti.  Teruskan  apa  yang  menjadi  kehendaknya. Teruskan  apa  yang dia anggap  baik. terasa  menyenangkan  melihat  seseornag  yang  mampu menjadi  dirinya  sendiri. Apa  peduliku  dengan  kehidupannya?  perilakunya? ketaatannya pada sang  pencipta? dia  yang  sepenuhnya bertanggung jawab.  Sesaat, cinta  terasa  halus  pada  pandangan  pertama. Namun,  kenyataan bukan  terletak pada sebuah  pandangan. Melainkan  pada  sikap  bijak seseorang  untuk  setiap  kejadian.  Aku bahkan  tak  mengerti, ketika  keadaan yang  berbeda  dijadikan  pemisah.  Sebenarnya, itu  tak membuat  aku  tersenyum  saat  mengingatnya.  Hanya  saja, batin  ini  mendorongku  begitu  kuat. batinku bilang, “Kau bukan  laki-laki lemah. tiada  pekerjaan  yang  sulit,  hanya  orang  yang  mudah  menyerahlah  yang  membuatnya  ada.”

Terkadang, aku mengikuti  cara  hidup  seseorang  untuk  menemukan  keakraban.  Meski pun aku  merasa  seperti  terpenjara.  Tapi aku coba  ‘tuk  pahami, karena  segala  sesuatu  ada pada masanya. Dia perempuan baik, tentu  yang  baik  pula yang akan  menjadi  miliknya.

Dia  lebih  tua  dariku. Walau pun tak berbeda  jauh.  Aku  pantas  menghormatinya. Aku  bukan tak  bisa  mengikuti  cara  bersikap  atau  bergaulnya. Ini  hanya  terlihat  asing. aku  terima  jika  dia  yang  melakukannya.  Aku  tak  bilang  bahwa  aku  tak  menyukainya.  Aku  hanya  tak  ingin  melakukannya.  Melakukan  yang  bukan  jadi  kehendakku.  Jika  menurutnya  aku berbeda  dari  yang  lain.  iya  betul. Aku  senang  bisa  saling  membaur.  Tapi  aku  tak bisa  memaksa  diri  untuk  menyesuaikan  sepenuhnya.  Dia  bebas  melakukan  apa  yang  menjadi  keinginannya.  Tawanya  yang  melupakan  senyum. Asapnya  yang  menutup  wajah  perempuannya.  Waktu  senggangnya  yang  terkadang  aku   curi  untuk  bersujud. Dia  boleh-boleh  saja menilaiku  sebagai  manusia  bodoh, angkuh  atau  apa pun itu. Aku minta  maaf  jika  itu  membuatnya terganggu. Maaf  jika  sikapku  terkesan  kampungan.  Maaf  jika  tabiatku  tak  sesuai dengan  keinginannya. Dan maaf  jika  terkadang  aku  memikirkannya. Aku ucapkan terima  kasih,  karena dia  izinkan  aku  menjadi  bagian  hidupnya.

Meski sebenarnya Aku  benci  untuk  mengatakan  semua  ini .  tapi  aku juga lelah  jika  hanya diam  menahan  rasa.  Bersembunyi  dibalik  jerit   hati.  Entah,   aku  merasa  seperti  ada  hal  yang  tak  seharusnya  ada. Yaitu  saat  ketidaktarikannku kepadanya  justru  membuat  hadir  perasaan lain. Benci, benci, rindu dan  rindu. Aku  benci  kenapa bisa  membencinya. Aku benci  kenapa  terkadang  memikirkannya. Aku tak  pernah  menyesal  bertemu  dengannya. Aku hanya  berharap,  ini  adalah  jalanku  untuk  memaknai  sebuah  pertemuan  sebelum  datang  perpisahan.  Meunghargai  sesuatu  yang  berada  diluar   dan   didalam  hidupku. Ketidaksempurnaan  mengajari  kita  untuk  melakukan  sesuatu  dengan  cara  yang  sempurna. Entah,  apa  yang  mendorongku  untuk  mengatakan semua  ini.  tak juga  tepat  jika  aku  bicara  lewat  surat  ini  diluar  kesadaranku. Aku  hanya  bicara dari  apa  yang  aku  rasa. Terdengar  menyiksa  batin,   saat  ingin  menggapai   sesutau  yang  jauh  dari  jangkauanku.  Mungkin  ada  jalan  penghubung  untuk  mencapainya. Aku hanya  perlu  menunggu  Tuhan memberi  jalan  atau  Tuhan  mendekatkan  dia  untukku. Ya Tuhan, aku hanya  ingin  tahu, haruskah  aku  bicara  seperti  ini dan mengadu kepada-Mu hanya  karena  terlanjur  kangen  kepada  perempuan  ciptaan-Mu? perempuan  yang  aku  rasa ‘membencinya’.

Apakah  cinta  itu   sebuah  kekhilafan, sehingga  patut  bagiku  meminta   maaf  ketika  mencintainya? haruskah  aku meminta  izin  kepada  Tuhan  hanya  untuk  jatuh  cinta  kepadanya?. Amat sukar  untuk  mengerti  jalan  pikirannku.  Setidaknya, aku  bisa  berhenti  berharap  untuk  memilikinya  yang  sudah jadi  milik orang  lain. bahkan  berhenti  memikirkannya.  Aku bukan  siapa-siapa.  Aku hanya  manusia  biasa  yang  penuh  salah. Juga sombong. Kali ini, mungkin  kesombonganku yang  sekian  kali.  Seperti  keharusanku  jujur  mengenai  perasaanku  terhadapnya. Maaf  bila  aku terlanjur  menyayanginya. Meski sebatas cinta  yang aku tahan  dalam senyuman  kecil  dibalik  tatapannya. Karana  tatapan itu ada pada  dirinya dan dirinuya itu, kamu.


Sumber Gambar : www.gbis-online.org



















Bicara Sahabat

Penalesia


Sahabat memang hanya sebuah sebutan, sebuah pengakuan yang bersyarat.
Ada yang bilang, sahabat itu ada di saat kita sedih dan gembira. Apa ini syaratnya ?!
Aku ingin tahu, jika dalam hidup hanya berlangsung dengan kesedihan.
Adakah sahabat yang mau menemaniku ?
Aku menyeru di kesunyian.
Aku terbahak dalam kegembiraan.
Aku sendirian.
Nyata.
Dan aku tak buta.
Aku merasa rindu kebersamaan.
” Bagaimana dengan sahabat ?”
“Tidak”. Aku atak butuh kehadirannya.
Aku tak bisa memaki.
Aku tak bisa mengerutu.
Biarkan sahabat terbang.
Biarkan sahabat melaju.
Biarkan Sahabat mengarung.
Dia berhak melalui harinya tanpa aku mendesaknya untuk menemuiku.
Sahabat hanya bisa berbagi waktu.
Karena aku tak bisa memaksanya berbagi jarak.


Sumber Gambar : katamutiara.web.id
 

Tentangnya

Penalesia 

Saat aku mulai berharap menemukan cinta, cinta yang tak harus memiliki. Seakan berubah menakutiku. Aku bukanlah seseorang yang pandai menyediakan segala sesuatu. Aku hanya masih merajut mimpi untuk melihat kenyataan. Kita memang berbeda dalam beberapa hal. Bukan karena engkau perempuan dan aku laki-laki. Aku hanya ingin engkau tahu, jika aku pun berhak mencintai dan dicintai. Ketika kau tak melihatku pantas, kau memang berhak memilih. Aku akan senang melihat engkau bahagia dengan pilihanmu. Aku manusia biasa, sama sepertimu? Entahlah.

Suatu hari, aku datang sebagai orang yang tidak mengenalmu. Kala itu, aku merasa asing. Aku orang baru bagimu, dan kau pun akan jadi teman baruku. Aku tak peduli dengan pekerjaanku saat ini, atau pun saat itu. Selama aku mencarinya di jalan halal, aku terima. Aku syukuri sebagai rahmat Tuhan. sedikit atau banyak penghasilanku, ini hanya masalah waktu. Dengan mengerjakan yang menjadi tugas dan tanggung jawabku, aku lebih bisa mengerti arti sebuah hidup.

Setiap hal yang belum aku tahu mengenaimu, aku hargai dengan diamku. Aku bersyukur, melihat kau seperti jijik saat aku ajak bicara. Itu artinya, aku masih di beri pikiran untuk introspeksi diri. Aku bersyukur, saat kau menyuruhku dengan sikap acuh tanpa aku dengar kata tolong-mu. Itu artinya, pendengaranku masih baik dan tenagaku masih di butuhkan. Aku bersyukur, saat kau terlihat enggan untuk aku sapa, untuk aku dekati, bahkan saling berbicara untuk lebih akrab. Itu artinya, aku bisa menahan egoku untuk tak berteriak di depanmu. Karena dibalik diamku. Hatiku berkecamuk jika melihat keadaanku. Apakah aku pantas untuk menjadi seseorang yang bisa menyapa dengan baik dan berbagi cerita di lain waktu?. Aku pun sama bisa merasakan getir pahit, saat menjadi orang yang di campakan karena ketidaksejajaran.

Siapa aku ? aku hanyalah aku. aku biarkan menggurita sosok yang bisa aku jadikan peran. Sesulit apapun berlatih menjadi peran orang lain, akan terasa lebih sulit berlatih untuk menjadi diri sendiri. aku hanya seorang manusia yang sedang belajar menghargai kenyataan. Ini bukan lah sama saat seseorang menolak perubahan. Tapi menyadari saat kehidupan memperlihatkan sisi lain dari yang kita alami.

Menanti kebaikan dengan bersabar, jauh lebih indah. Aku ingat, saat kau memberiku ucapan terima kasih, meski aku membalas diam dalam bibir. Kau tentu tak melihat jalan pikiranku. Aku membisu karena malu. Suaraku hanya bisa memekik di tenggorokan. Aku dilema melihat kau yang baik atau buruk. Saat dari jauh aku dengar teriakan sinismu. Aku takut sikapku akan membuatnya tak nyaman lagi. Lebih baik mendengar caciannya, dari pada melihat dia menyesal kerena berhubungan denganku. Aku akan tetap senang menjadi orang yang bisa membantumu.

Manusia butuh dihargai. Manusia butuh diakui keberadaanya. Aku ingin mengakui suatu hal yang mungkin tak ingin kau dengar. Aku ingin kau tahu perasaanku sebenarnya. Berikan aku waktu untuk mengatakan semuanya. Aku harap, engkau mau bersabar mendengarkan dan sedikit berbagi mengenaimu. Aku tak peduli kau akan menolak. Iya, meski aku akan menangis saat berada jauh darimu. Aku akui, aku senang bisa menjadi bagian dari hidupmu. Walau pun kehadiranku justru mengusik ketenanganmu. Aku minta maaf. Maaf telah membiarkanmu masuk dalam kehidupanku. Maaf karena aku menyayangimu. Ini aku adanya. Aku hanya bisa mencintaimu, sebatas usahaku untuk memuliakan sebuah hubungan agar lebih baik. Maukah kau memberitahu kepadaku siapa engkau?


Sumber Gambar :  twitter.com

Indahnya Saling Menghargai

Penalesia 

Apa anda pikir masalah itu perlu diatasi dengan cinta? Apa keberanian bagian dari cinta? Berani bukan berarti menunjukan sikap marahmu, tapi semangatmu. Cinta-keberanian-semangat, bersumber dari cinta. Jika kau pikir cinta itu perlu ditunjukan dengan kehalusan. Bagaimana saat nyamuk menggigitmu, lalu kau mau mengusirnya secara perlahan, kau tiupi nyamuk itu, atau kau sapu dengan tanganmu? Pernahkah kau tunjukan rasa cintamu untuk masalah yang bisa membuat terluka? Seperti kau meniup nyamuk agar pergi tanpa membuatnya tersakiti bahkan mati. Saat kau mampu melakukannya, kau akan diam dan tersenyum karena kau telah mengisi hidupmu dengan taburan cinta. Iya, mungkin saja ini mudah bagimu, bagaimana jika anjing yang mengigitmu? Apa perlu anda meniup atau menyapunya? Andai kau tidak yakin, apa yang mebuat anda takut terhadap manusia yang jelas punya akal dan hati saat dia tak suka padamu? Dekatilah dia jika kau cinta, hormatilah dia lebih dari nyamuk dan anjing. Jika kenyataannya dia adalah manusia yang punya cinta. Hormatialh dia dengan penghargaan sebagai manusia bukan binatang yang akan membuat kamu berteriak, bukan diam dan tersenyum? Tentu akan munafik, saat kau bersedih karena bahagia, tapi kau akan menangis karena “nyamuk” yang berakal dan berhati telah menggigitmu!
 Sumber Gambar : anggaba.blogspot.com

Selasa, 17 Maret 2015

Makhluk Tuhan yang Lucu






Kalimat ini yang pertama kali dibisikan hati. Entah apa yang membuatku tak mengatakan elok atau indah. Makhluk itu memang terlihat lucu. Membuatku tertawa saat melihatnya. Langkah lambatku dalam berkendara menjadi terasa lebih nyaman. Pengalaman saat itu membuatku takjub dan terpesona dengan karya Tuhan. Memang tak sempat aku memotretnya, namun ingatan itu masih membekas. Ingatan yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Dia amat menawan dalam pandangan sekilasku. Kau memang Luar Biasa Tuhan, kau Cipatakan makhluk dengan berjuta wujud. Hari itu dan sekarang, ayam kate itu memang lucu.


Sumber Gambar : omkicau.com

Minggu, 15 Maret 2015

Izinkan Selamanya Namamu di Hati

Penalesia

Apakah Aku perlu izin ke Tuhan untuk jatuh cinta kepadanya?”
Dia perempuan yang membuatku tertarik. Melihatnya seakan aku berdiri membelakangi cermin jernih yang tembus pandang. Tanganku tidak bisa menyentuhnya, bukan karena jarakku yang jauh, tapi karena dekatnya cermin yang menghalangiku. Aku merasa, seperti bermimpi tanpa aku tertidur.  Dia sesuatu yang nyata, tapi aku tidak mampu menyentuhnya. Mataku terus terjaga memandangnya. Aku larut dalam perasaanku untuk menyadari siapa aku sebenarnya. Terlalu sulit bagiku untuk mengenal diriku sendiri dan menemukan siapa diri aku yang sebenarnya. Dia memang perumpuan yang baru saja aku temui. Tapi apalah daya, hatiku tidak ingin melepaskannya. Menutupi perasaanku untuk mengenalnya. Mungkin ini yang dikatakan cinta pada pandangan pertama. Lalu, apa masih ada sisa cinta pada pandangan kedua? Apa bedanya melihat dengan memandang? Bagaimana jika aku terlahir sebagai seseorang yang buta? Apakah aku harus menunggu dapat melihat seisi dunia, dan melihat sosok manusia yang aku kenal sebagai perempuan, yang pada akhirnya aku jatuh cinta?”
Oh, apakah cinta membutakan yang melihat? Atau melihatkan yang buta? Sesungguhnya aku tidak menginginkan mencintainya, kecuali cinta itu datang dengan sendiri. Apakah cinta itu sebuah kekhilafan, sehingga patut bagiku untuk meminta maaf, lantaran aku mencintainya?”
Ya Tuhan, apakah aku perlu meminta izin untuk jatuh cinta kepada hamba-Mu? Padahal cinta itu datang lebih dulu menemuiku, terlalu berkhayal, jika laki-laki yang pemalu dan bukan dari orang berada semacam aku. Berharap memiliki wanita yang jauh berbeda dengan keadaanku.
“Maaf, kalau boleh tahu, engkau sedang cari buku tentang apa?”, tanyaku pada perempuan disebelahku. Tapi dia diam tak menanggapi pertanyaanku. Mata dia sibuk melihat-lihat buku yang berjajar rapi di atas meja kayu. Aku menelan ludahku sesaat. Aku mulai berpikir, “Apa ada aturan untuk menyapa wanita cantik bagi pria konyol seperti aku?”. Aku tak berhenti sampai disitu. Perasaanku amat bergejolak untuk mengenalnya. Hingga pada saat itu, aku tidak lagi bertindak sebagai orang yang pemalu. Bukan karena aku menyembunyikannya, tapi itu diluar kesadaranku. Jatungku berdetak kencang, serasa menepuk-nepuk batok kepalaku. “Hai Anum!, hatiku berteriak, menyautiku untuk berani maju, “Apa ini kau yang sebenarnya?”
“Apa yang kau mau, wahai hati? Aku merasa tak berdaya jika harus berhadapan dengan seorang gadis”, sahutku pada hati.
“Coba kau lihat, dia nyata ada dihadapanmu. Jangan berpikir kau akan gagal untuk mengapai sesuatu yang ada di depanmu. Jika memang kau berani, tunjukanlah bahwa kau pria yang pantas untuk bersahabat dengannya, bahkan lebih dari itu.”
Gadis itu masih berkeliling disekitar tempat bazar buku yang aku kunjungi itu. Acara yang diadakan oleh Komunitas Peduli Anak Bangsa, yang dilatarbelakangi atas keprihatiannya terhadap perilaku anak muda zaman sekarang ,terutama bagi para penerus bangsa yang kurang antusias dalam melakukan praktik membaca. Membaca bahan bacaan yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan kelangsungan hidup bagi setiap individu, yang hubunganya dengan masyarakat. Informasi ini aku dapat dari selembaran brosur yang dibagikan oleh panitia penyelenggara bazar, yang bertajuk cinta tanah air, tiga hari sebelum acara dimulai. Aku pribadi sangat setuju dengan progam ini, karena dalam kegiatanya, acara ini hanya dipungut biaya dua ribu rupiah. Dari total uang yang terkumpul, akan didonasikan untuk korban bencana, maupun dalam rangka kemanusiaan lainya. Buku ini gratis untuk dimiliki. Buku dari berbagi sumber yang diperoleh dari alokasi dana pendapatan daerah. Disitu disediakan lahan luas khusus untuk membaca, aku menyebutnya Perpustakaan Alam. Karena memang lokasinya yang tidak jauh dari pemandangan. Pengunjung dilarang keluar sebelum melewati tempat ini, sungguh ini peraturan yang tegas dan mendidik. Saat itu suasananya masih sepi dari pengunjung, waktu menunjuk pukul 08.00 WIB. Seruan-seruan burung sangat jelas terdengar, melempar kicauannya menyambut pagi hari. Semilir angin yang melewati pepohonan, mengusap-ngusap ragaku yang sejenak untuk bernafas. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Aku masih mengikuti gadis itu perlahan-lahan. Aku lihat, dia berjalan ke arah tempat buku khusus bacaan orang dewasa. “Hai...!”, sapaku pada gadis berparas cantik itu. Cantik bagiku, ini hanya persoalan hati dan selera. Aku bisa saja tak punya rasa dengan wanita yang menjadi pujaan para lelaki, hanya jika aku tak bersahabat dengan hati dan berselera dengannya. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan wanita dengan wajah yang menjadikan kaum adam membenci dan menjauhinya? Aku yakin, kecantikan bukan alasan cinta yang sebenarnya. Aku hanya akan yakin, jika pria tetap mau mencintai pasangannya, meskipun alasan-alasan yang pria buat telah luput darinya, begitupun bagi kaum hawa. Karena Tuhan adalah sebaiknya-baiknya alasan. Alasan yang sejati dan kekal bagi kehidupan. Gadis itu memandangiku. Mungkin karena telah memperhatikan penampilanku yang terkesan kuno. Aku bisa lihat mata dia mengarah ke kakiku dan berakhir dengan tatapan sinis.
            Aku tidak ingat, kalau tujuanku pergi di hari minggu itu, sebenarnya adalah untuk menjahit sepatu kiriku yang rusak, setelah aku kehujanan dihari kamis sepulang sekolah. Tukang sol sepatu yang akan aku temui cukup jauh dari tempat bazar buku. Karena itu, aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari perjalananku dengan berkunjung ke Bazar Buku yang Bertajuk Cinta Tanah Air ini. Aku mulai merasa gugup, ketika dia melihat jempol kaki kiriku terlihat keluar dari penutup sepatuku. Ini sungguh tragedi.
“Kenapa kamu mengikutiku?!, bentak si gadis cantik itu.
“Aku tak mengikutimu, aku cuma mau lihat area di sekitar sini, timbalku sambil memegang erat buku dengan kedua tanganku, “Kenapa kau membentakku?”
“Apa tak ada tempat lain yang bisa kamu kunjungi dan kamu injak dengan sepatu rusak seperti yang kamu pakai?”.
“Kau ini...!” aku tak kuat lagi membalas perkataanya, suaraku mengelak ditenggorkan. Kami saling menatap beberapa saat, lalu dia pergi melewatiku. Batinku berkecamuk, menelan getir pahit dari ucapan gadis yang aku kagumi.
            Sebelum aku masuk sebagai pengunjung, aku sempat menemui sesorang yang lebih dulu berkunjung dariku, kata si pengunjung itu, aku tak akan dapat izin keluar dari tempat yang aku menyebutnya Perpustakaan Alam, sebelum benar-benar membaca buku. Mendengar penjelasan ini, aku sangat senang dan berharap bisa bertemu dia di tempat itu. Aku merasakan angin telah berhembus memelukku. Udara yang saat itu tak terlalu terang ataupun teduh, membuat suasana hati berselimut rasa damai. Aku berdiam diri sejenak, berdiri dengan memejam mata dan mengirup udara segar dari alam.
Wahai kaum Hawa, aku mengaggumimu atas kenormalanku sebagai kaum Adam
Aku berharap bisa menemukan cinta dengan jalanku mengenalmu
Wahai kaum Hawa, aku tak mencoba mendekatimu karena engkau makhluk yang sempurna
Tapi, aku berharap engkau mau menerimaku saat kau menemukanku sebagai makhluk yang tak sempurna
Karena kesempuranaan bermula saat melihat ketidaksempurnaan
Apakah kamu akan tetap merasa sempurna, saat mengetahui bahwa Tuhan adalah yang Maha Sempurna?
Karena kesempuranaan bermula saat melihat ketidaksempurnaan, lalu aku, kau, dan mereka mau menerima yang tak sempurna sebagai hal yang indah untuk menemukan arti kesempurnaan yang sebenarnya


Aku tidak perlu menduganya, gadis itu pasti pergi ke perpustakaan alam. Tak banyak berpikir, aku berjalan mengikutinya, sembari tanganku mengambil buku tanpa melihat judul buku itu. Kebutalan dia hanya seorang diri, berbeda dengan yang lain, membaca dengan kelompoknya. Aku duduk sekitar dua meteran tepat didepannya, memandanginya yang tengah serius membaca buku. Tiba-tiba datang angin yang cukup kencang. jantungku kembali berdetak cepat, melihat rambut si gadis cantik itu terurai menutupi mukannya, rambut yang panjang lurus dan hitam pekat itu, ia sibakan dengan penuh perasaan, “wuhft”, aku menghela nafas. Sungguh, cinta telah membuat angin lebat menjadi sekumpulan awan yang menari-nari kegilaan. Bola matanya yang halus dan bulat, terasa tajam hingga seakan menusuk-nusuk relung hati. Maha besar Tuhan yang telah mencipta dengan tiada kesia-siaan. Gadis cantik itu menatap tajam ke arahku, aku hanya bisa berdoa. “Semoga saja dia tidak tahu”, pintaku dalam hati sambil aku memegang buku untuk menutupi wajahku, agar seolah-olah aku terlihat membaca. “Aau!”, kenapa kau menimpukku?”, seruku pada gadis cantik itu. “Bagaimana bisa kau melihat yang lain? Sedangkan kau tengah membaca buku”, bantah si gadis. Aku tahu kalau gadis itu yang melempar koin seribuan di lenganku, karena memang arahnya dari depan. Aku tak menyadari jika koin yang di lemparnya, aku ambil dan aku masukan kesaku celanaku. Aku melihat raut wajah si gadis cantik itu sedang menahan tawa. Bicaranya diapun sambil menyeringai. Mungkin karena melihat sikapku yang terkesan bodoh, bukan , maksudku, aku jadi salah tingkah dibuatnya.
Aku menutup lembaran buku yang aku bawa. “Aku suka dengan buku yang kau baca?”, tanyaku pada si gadis. Dia tak bergeming. Entahlah, dia tak mendengar atau sekedar berpura-pura.
 Aku melihat potongan ranting seukuran jari kelingking berada di sampingku. Aku lemparkan ranting itu, dan tidak sengaja mengenai pipi si gadis yang berkulit putih itu. Aku langsung berlari mendekatinya.
“Aku minta maaf? Aku tidak tahu kalau ranting ini mau mengarah ke pipimu. Kau tidak apa-apa ‘kan?”
“Kenapa tak kamu lempar saja batu yang besar?” jawab si gadis dengan cemberut.
“ Jangan, aku pasti tak kuat mengangkatnya. Aku tak mau memberi sesuatu yang membuat seseorang merasa kesulitan untuk membalasnya, meskipun aku tak menginginkannya”, aku coba menenangkan suasana, “Pernah tidak kau mendengar ungkapan seperti ini, tangan dibalas tangan, kaki dibalas kaki, nyawa dibalas nyawa?”, kenalkan, nama saya Anum, aku tinggal masih dekat dengan daerah ini. maukah kau membalas dengan memberitahu namamu?”
Sinar mentari mulai beranjak, merayapi setiap celah dedauanan. Pengunjungpun mulai terlihat ramai. Dan Aku masih menunggu gadis itu menjawab pertanyaanku. Aku menjadi merasa bersalah melihat ia cukup lama mengusap-usap pipi yang terkena ranting karena ulahku. “ Kau pasti benar-benar marah denganku, apa yang bisa aku perbuat agar kau mau memaafkanku?” Tolong katakan apa yang kau mau, supaya aku bisa memberinya untukmu?”, aku membujuknya lebih dari seorang ibu membujuk anaknya yang susah makan, seorang ibu sebagai raja, yang bertindak seperti pengawal, demi mengasihi anaknya.
“Memangnya apa yang bisa kamu beri untukku? Bagaimana jika aku terluka? Apa kamu mampu membiayaiku?”, jawab si gadis enteng bernada kesal.
Aku menundukan kepalaku, berlutut bak tahahan menunggu algojo memenggal kepalanya. Aku sadari, mungkin kedatanganku hanya membuat ia terusik. Aku berharap, dia tak menahan amarah didalam dadanya. Dan membungkam bibirnya untuk tidak berbicara denganku. “Hai sobat, tahan emosimu. Jangan biarkan pikiran buruk mempengaruhi keinginanmu. Kau tahu, seberapa lembutnya air yang mengalir, seberapa beningnya sisa tetesan air hujan di waktu pagi, sore, dan malam hari? Kau tak perlu memaksa diri untuk menjadi pribadi yang keras seperti baja, untuk bisa memecah semua hal yang kau mau. Kau hanya butuh sabar dan jangan cepat menyerah. Sebagaimana tetesan air mampu membuat lubang pada awak batu yang keras”, kata hatiku.
Aku menarik nafas sebentar, “Iya, mungkin aku takan mampu. Tapi aku kira, aku bisa memberimu sesuatu dari hati?”, Apa kau mau?”.
Dia kembali menatapku. “Apa yang akan aku minta dari hati orang semacam kamu?”.
“Seburuk apa kau melihatku? Apakah dari awal aku menakutimu?”
“Apa aku terlihat takut denganmu?”, sudahlah, jangan ganggu aku lagi!”
“Baik kalau itu yang nona mau?”, kami masih saling bertatap.
“Stop!”, kau bilang aku apa tadi?”, Nona!?”, aku rasa amarah dia mulai meledak-ledak,
“Aku kira kau tak punya nama, jadi aku bebas memanggilmu apa saja, bukan?”, “Aku mengerti, namamu mungkin lebih mahal dari seratus kali harga sepatuku. Kau hanya mau memberinya untuk seseorang yang sepadan denganmu. Kau bisa lihat pasir yang menempel disepatuku, tapi sepatu ini tetap sebagai miliku. Seberapapun kotor dan membuatnya tak pantas lagi untuk dipakai. Ini tetap milikku. Sepatu bukan hal yang kotor, tapi melindungi dari yang kotor. Sepatu bukan sejatinya hal yang kau tindas karena kau menginjaknya, tapi sepatu justru sebagai pijakanmu untuk berdiri dan melangkah. Aku senang jika ada orang yang bertanya tentang namaku ketimbang sekedar bertanya siapa aku? Meski ini pertanyaan yang bagus, tapi seolah aku sebagai orang lain, aku  tak mau saat berbicara denganmu, tapi hatiku berbisik dengan orang lain, aku tak mau saat melihatmu berbicara, tetapi telingaku menguping percakapan orang lain, dan sungguh aku tak mau saat kau memberikan hatimu untukku, namun aku terpaut dengan yang lain, hanya karena aku tak mengenalmu. Karena mengenalmu adalah hal yang penting bagiku, dan akan lebih penting jika aku tahu siapa namamu.” Gadis itu terpaku mendengarkan ucapanku yang cukup panjang, kami masih saling menatap. Gadis cantik itu menggigit bibir atasnya, seakan ada yang ia sesali. Entahlah.
“Kamu benar ingin tahu namaku!?”, Tanya si gadis cantik itu. aku tak lagi mendengar celotehnya yang jutek, suara gadis itu terdengar mendesah dan menyejukan jiwaku.
“Kamu lihat, laki-laki yang berdiri disamping mobil bewarna hitam didepan pintu masuk bazar?”, kamu pasti melihatnya, dia adalah ayahku, kamu bisa bertanya dengannya.”
“Apa kau yakin?”, tanyaku setengah percaya.
“Iya, aku akan berjalan dibelakangmu.”
Gadis itu mengajakku menenemui ayahnya, aku seperti diambang kematian, badanku menjadi kaku dan lemah. Bagaimana ini bisa terjadi?”, Tanyaku pada diriku sendiri.
“Tentu kau bisa”, kau hanya butuh keberanian, bukankah kau pernah bertanya, “Ya Tuhan, apakah aku perlu meminta izin untuk jatuh cinta kepada hamba-Mu?”, iya, mungkin ini cara Tuhan untuk menyampaikan jawaban dari pertanyaanmu, restu orang tua adalah sebagai izin yang Tuhan berikan untukmu. Berjuanglah, kau pasti bisa!”, Bisik hatiku.
“iya, aku pasti bisa”, gumamku.
Sebelum aku mendekat ke laki-laki berkumis tipis itu, dia memanggil gadis dibelakangku, “Hello cantik...!”.
“Selamat pagi, ‘yah...! balas gadis cantik itu.
Tidak banyak cakap, dia mengedipkan matanya kepadaku, pertanda ia menyuruhku.
“Selamat pagi, Pak!”
“Kenalkan Yah, dia temanku”, gadis itu menyelanya.
“Anum!”
“Saya Rudi, ayahnya Afifah. Kamu teman kuliahnya yah?”, kami saling berjabat tangan.
Aku kaget bercampur senang, mendengar gadis itu menyebutku sebagai temannya. Dan ternyata gadis yang aku dekati itu, sudah duduk di bangku kuliah, sementara aku masih duduk di bangku SMA. Karena itu aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Ayahnya. Tapi tak apa, dari kejadian itu aku jadi tahu namanya, Afifah.
“Kami sedang buru-buru, kamu bisa main kerumahku lain waktu.”
“Terima kasih Pak, senang bertemu dengan anda, saya berharap pertemuaan ini bisa bermakna sebelum datang perpisahan.”
Pak Rudi bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Sekarang kamu sudah tahu namaku”, kata Afifah sambil memegang pintu mobil.
“Lalu...?!”
“Kamu bisa bertemu denganku ditempat ini besok pagi.”
Aku bahagia saat itu, mataku berkaca-kaca.
Seperti inilah kehidupan, saat aku bisa berkata, welcome to mylife, aku harus berani menerima ungkapan, I’m sorry good bye. Karena itu, aku berharap bisa memaknai setiap pertemuan sebelum datang perpisahan. Dan selalu bersyukur bahwa Tuhan pasti akan menjawab pertanyaanku, dengan rencana-Nya yang membuat seseorang sukar untuk bersabar menerima prosesnya. Padahal Tuhan pasti akan menjawabnya, ini hanya butuh waktu untuk menyaksikannya. Terima Kasih Tuhan, Tuhanku yang Agung, Allah SWT. Terima kasih Suara Hati, engkau telah membimbingku untuk menemukan jawaban dari pertanyaanku. “Iya, aku perlu izin ke Tuhan untuk jatuh cinta kepada hamba-Nya.” ⃰ End


Sumber Gambar : pixgood.com

Cinta Permata Karang

Penalesia          

          Hampir aku tenggelam  jauh dari permukaan, saat aku tak mampu menjangkau Karang yang tersembunyi dikedalaman. Tapi aku yakin, dengan aku berusaha, dalamnya lautan akan dapat aku capai. Lain ketika aku bersikeras menggali kedalaman hati Sang Karang, keyakinanku kian di hempas ombak, saat banyak yang lain dari pada aku berambisi mengejar permata yang ada dibalik penutup dari keberhargaanya menjaga pedoman.
Permata yang tak hanya aku mengidamkannya, diluar semua ini, para pecinta permata terkesan dengan keberadaannya. Tapi, mungkin mereka semua takut, ataukah mungkin mereka malu? Padahal mereka lebih pantas dari apa yang aku kira, kenapa mereka tak mau maju mendekatinya?
Disitulah aku beranjak, merangkai sebuah perahu, meski dengan keapaadaanya aku merakit untuk menyusunya menjadi kerangka. aku amat percaya dan gila dengan perasaanku untuk dapat memilikinya. Namun, aku bertindak bodoh dengan diri aku sendiri, yang lalai untuk menghargai kehidupan Karang di lautan yang dapat aku berpijak diatasnya.
Aku melupakan sebuah hal yang tak semestinya bukan hanya kecintaan, yang menjadi sebuah keharusan untuk mencintai Sang Karang, melainkan rasa kepedulianku terhadap permata yang ada didalamnya, memberikan tanggung jawab dengan menjaganya, dan menjadikan dia sebagai sandaran orang lain setelah dia mampu membuat aku berdiri tegak dengan sejuta cinta yang aku pendam dan aku rajut dalam ketidaktahuanku merangkai sebuah perahu, yang hanya terbalut oleh kayu-kayu cinta, yang sebenarnya bukan hal utama yang dapat memberikan kekuatan yang besar untuk mencapai sebuah tujuan, melainkan ketulusan dan kedewasaan sebagai pelapis dari kerangka perahuku agar tak mudah karam diterjang ombak untuk berhasil menggapai mimpi. Tapi, aku sangat menyesal. Saat aku mengabaikan kesalahan atau kekeliruan kecil, yang sebenarnya dapat menjadi besar. Yaitu secara tidak langsung, aku tengah merobohkan diriku yang sebelumya berdiri kuat, dengan membiarkan perasaanku yang hanya terpaku oleh cinta, cinta dan cinta pada Karang. Tanpa pernah memikirkan, jika sebenarnya perasaanku telah membuat aku hanyut dalam derasnya gelora gelombang cinta yang aku rasakan. Karena air kesedihan merembaskan perahuku tersenjang jauh dari harapan.
Sang Karang hanya diam dengan penderiannya yang keras seperti awak Karang yang sesungguhnya. Aku menjadi orang yang sangat bodoh, bodoh atas tindakanku menginginkan dia menjadi milikku. Tidak sepatutnya aku mengusik Karang yang sedang menata diri. Lalu mengganggu dia dari keterdiamannya menghasilkan permata, yang mampu menyinari dia dari keterjauhannya dengan Sang induk. Iya, Karang itu tinggal dalam perantauan untuk merajut permata yang berguna bagi kehidupan manusia. -permata yang bercahaya. Tapi tidak  membuat sesuatu disekelilingnya terbakar-. Dia lugu, tak pernah aku melihat dia menutup bibirnya untuk tidak tersenyum saat berjalan. Kebahagiaan seakan menghiasi dirinya. Akupun jadi ikut merasakan aroma kebahagian itu, yang menebar dimuka bumi. Seperti wangi mawar yang terkurung didalam gelembung besar, lalu gelembung itu terpecah. Hingga kemudian angin menyapunya, dan aku bisa menghirupnya sampai menyentuh relung kalbu.
Senyum Sang Karang yang tak sulit untuk dijadikan teori dalam kehidupan pribadi. Ternyata cukup sulit saat aku menyertakan dalam praktik kehidupan nyata. Praktik memang sulit dari pada teori.
Aku selalu mengingat senyum itu, senyum yang sederhana, namun membuat rumit saat meilihatnya. Mungkin senyum mampu memberikan pengaruh yang besar bagi seseorang yang sedang mengalami keadaan sesuatu. Kebesaran Tuhan tersirat diwajahnya. Begitu sempurna Tuhan mencipatakan manusia digaris perbedaan. Satu dengan yang lain, akan tampak perbedaan. Meski mereka semua sama mempunyai dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, bibir untuk tersenyum, dan hati yang menjadikan dari beberapa Sang Karang dapat dikenali. Tapi, satu sama lain perbedaan itu jelas tergambar. Seperti apa yang aku lihat. Ada Karang yang cantik, manis, pemalu, lugu, atau bisa saja kaku. Disinilah aku mencoba memahami makna dari mencintai dan mengagumi. Walaupun aku merasa masih terlampau jauh untuk mengerti arti cinta  yang sebenarnya. aku harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Sebagai manusia, yang pada hakikatnya tidak mempunyai target dalam mencapai pengetahuan baru. Karena pada dasarnya pula tidak ada hukum yang mutlak didunia ini, pasti akan mengalami perubahan dan pembaharuan seiring berjalannya waktu, serta beberapa keadaan yang mengharuskan adanya pencerahan.
Seperti menyelam sambil meminum air, kujalani keseharianku dalam menimba ilmu didalam wadah pembelajaran(sekolah). Hanya saja, aku seperti tak memperdulikan ketidakselarasan dalam ungkapan ini. Sebuah deretan kalimat yang seharusnya tersusun dari kebaikan disaat aku melakukan tindakan. Kata ini yang semestinya menjadikan aku sebagai makhluk yang produktif. Menjadi runtuh, ketika aku tidak dapat keluar menyumbul kepermukaan, menghirup udara segar dari keterhanyutanku menelan getir pahit, merasakan kegagalan dalam mencari cinta sejati.
Entah karena perbedaan yang membuat Sang Karang menjauh, ataukah hanya ketertutupan dia menyimpan permata yang tak akan ia lepas hanya untuk menolong seseorang yang sedang melawan ombak kebimbangan ditengah luasnya laut daratan? Saat aku merasa tak layak hidup didunia karena tidak adanya orang yang menemani. Meski Sang Karang sadar, bahwa tidak pantas pula jika dia hanya berdiam diri dan membiarkan Aku terhanyut. Hanya karena cinta yang menurutnya dapat menghidupakan aku kembali.
“Iya, aku sadar. hidup tidak mungkin hanya dengan mengandalkan cinta. Tapi, bukankah akan jauh lebih indah jika cinta selalu mengiringi kehidupan?”.
            Aku lemah, cinta yang hilang dari Sang Karang telah mengamputasi  semangatku untuk bangkit sebagai seseorang  yang selalu menjaga senyumnya, dari keapaadaanya yang aku miliki. Hidupku kian terombang-ambing bak ombak menerjang teluk, air laut itupun terpental menjauh. Aku merasa bukan diriku sendiri. Hati yang dulu menyatu dengan jiwa, kini terasa terpenjara, terjerat dalam kebingunganku membuka cakrawala baru dalam kehidupan. Seakan jalan tempuhku terputus, tak ada kelanjutan jejak, seperti aku terdampar ditengah samudera setelah aku mengarunginya, dari ketidakberdayaan aku menahan perihnya kesedihan. Sang Karang yang dulu menyemangatiku untuk tidak terjun ke jurang. Diatas tebing yang tinggi. Ia justru menjauh. Karena pertolongan yang ia anggap adalah sebuah pertentangan yang dapat menjadikan dia lupa dari pedomannya, sebagai Karang yang taat terhadap peraturan dan pengabdiannya kepada keluarga, bangsa dan negara. Serta keyakinan dia sebagai seorang muslim yang tunduk patuh terhadap atasan-Nya, yang telah menyerukan kepada hambanya untuk tidak menuruti hawa nafsu. 

   ...

Dimataku dia sosok wanita yang kuat terhadap prinsip keimanannya. Dia juga amat kontruktif terhadap pendiriannya. Tidak sepatutnya jika aku mencaci faham dan pendirian dia. kenapa aku harus marah hanya karena ketidaksejajaran pemikiran aku yang saling berseberangan? Kenapa pula aku mesti menghindar dan membencinya hanya karena beda pemahaman? Sungguh merupakan sebuah kesalahan jika aku mencoba lari dari tanggung jawab untuk tidak mengakui adanya perbedaan dalam hidup. Perbedaan seperti cermin, ia menjadikan aku tertuntun untuk memilih dan melihat apa yang menjadi kekurangan aku. Perbedaan menunjukan aku, betapa pentingnya menghargai seseorang, dengan perbedaan pula dinamika hidup akan berjalan, yang melibatkan para pelakunya saling mengisi di dalam kekurangan mereka masing-masing. -alangkah nikmat adanya perbedaan-.
Menuntuntut adanya kesamaan?” iya, aku anggap ini hal yang wajar, karena tak salah jika ketika pertemanan itu terjalin karena adanya persamaan-persamaan. Tapi, bukan karena adanya perbedaan lantas aku menentang saat terjadi ketidakselaraasan dalam mengungkapkan pendapat, melainkan bagaimana aku bisa mensejajarkan dan menjadikan keseragaman diantara perbedaan-perbedaan yang seharusnya timbul variasi hidup yang ternaung di dalam kasih sayang bersama. 

                                                        ...

Cinta sebatas mata melihat awan, nampak dekat. Tapi sulit untuk disentuh. Aku takan bisa  hanya berandai-andai dan menuruti perasaan saja. Karena itulah aku kerap egois, arogan, dan agresif. Aku pikir Sang Karang akan lari, dan aku takut ketika dia tersudut diantara para pecinta yang mempunyai banyak peluang. Hatiku sepertinya rapuh, saat ketidaksanggupanku memiliki dia terus merayapi. Bayang-bayang semu raut Sang Karang tak mampu sepenuhnya aku sembunyikan. Sekalipun aku harus memejamkan mata. Berharap agar tertidur dari kelelahan hatiku ini. Dia hadir begitu saja, terlintas dalam benakku. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? aku merasa sepi, rindu, dan kehilangan. Apakah cinta pula ada disaat aku tengah merasakan kehilangan, Dan disaat aku menginginkan kehadiran Sang Karang? Kepada siapa aku harus bertanya. Menjelaskan kutipan hati yang selalu aku pertanyakan. Tuhan memanglah lebih tahu, mana-mana yang tidak aku ketahui. Mungkin Tuhan punya cara lain untuk memberitahuku. Tidak baik jika aku menebak-nebak, kemudian mengartikan perasaanku selama ini kepada Sang Karang. 

...      

            Gila, aku seperti orang yang tak punya pilihan lain. Selain jalannya otakku untuk memutar tentang dia. Berkhayal, berharap dia ada disampingku. Sebagai seseorang yang sudi memberikan permata hatinya. Mungkin ini akan membuat aku menjadi bangga karena pencapaian aku membuka mata hati Sang Karang. Tapi, ini hanya sebagai omongan belaka. Tak bisa aku muat sebagai kenangan menggapai mimpi didalam memori yang penuh dengan hal yang memilukan. Kedengarannya memang ironi, jika masalah demi masalah digantung dengan kegagalan dan kekecewaan.
            Sungguh aku sangat cinta dan mengagumi dia. Jarak keterikatanku sebagai buruh ilmu kini berubah mengukir waktu. Perjalanan menyongsong masa depan seakan menyurut. Aku lelah dengan semua ini, mengagumi tanpa dicintai. Emm..mm, tapi, tak apalah itu hak dia. Mencintai dan dicintai hak setiap orang. Menolakpun hak bagi setiap orang. Tidak pantas jika aku merebut hak-haknya. Untuk kemudian aku paksa, agar dia mau mencintaiku. Aku lebih memilih tidak dicintai dari pada dicintai karena keterpaksaan. Meskipun aku tahu, rasa cinta bisa tumbuh dibalik cinta yang dilandasi pemaksaan. Aku menyebutnya cinta yang datang dari buah  pembiasaan. Sebuah cinta yang datang dari pemaksaan dan muncul menjadi kebiasaan. 

...

Lepas! Melepas masa lalu, mengubur setiap kenangan, yang indah saat aku bisa tersenyum, yang dahsyat saat aku jatuh cinta, dan yang pahit saat kedatanganku seperti membuat Sang Karang terusik. Akan tetapi, masa lalu itu bagaikan aku sedang memendam hidup-hidup cacing tanah, yang kapanpun dia bisa menyeruak keluar. Teringat masa lalu membawa perasaan ini menyeret ke rasa bersalahku, kesedihanku, dan superiorku-disaat aku menjadi orang hebat karena sifat egoisku-.
            Aku harus bisa menerima kenyataan, kenyataan akan suatu hal yang pasti berlalu seiring adanya peretemuan. Aku tidak bisa jika selalu memaksakan diri, mendambakan semua keinginan-keinginanku dapat tercapai. Masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran untukku, bukan penyesalan yang berkepanjangan atas kegagalan-kegagalanku. Masa lalulah tempat pijakan untuk aku belajar, menyetir keadaan saat ini ketika terjadi penyimpangan. Dengan begini aku bisa bersehabat dengan masa laluku. aku tidak menyesal jatuh cinta dengan Sang Karang, mencintai dia adalah bahagia untukku. -Bahagia dia, bahagiaku-. Aku harus bisa bangkit, untuk dapat mengarungi kembali kehidupan, yang sempat membuatku terhanyut. Kini saatnya aku berdiri, berpijak dipermukaan padat tak seperti air, inilah yang aku sebut laut daratan. Sebuah planet yang mengizinkanku untuk hidup dan bertempat tinggal, bersama perbedaan yang menyatukan dengan khalayak. Manusia adalah perasaan dan pikiran bumi. Jika perasaan dan pikiran manusia tak teratur dan terarah, bumi takan lagi merasakan cinta dari manusia,  laut takan lagi menghisap air mata kasih sayang. Permata yang adapun tak akan bisa tumbuh dengan sempurna. Sang Karang yang tak bisa lagi aku impikan, dan aku inginkan untuk aku miliki. Tetaplah harus aku kenal dan aku jaga sebagai anugerah terindah yang Tuhan ciptakan. Meski sesaat ia hadir dalam kehidupan. Bumi, Manusia, Cinta, harus dapat aku jaga, sebagaimana aku berusaha menjaga cinta permata Karang . End


Sumber Gambar : distrohaydar.com
Copyright © 2015 Penalesia