Mulut yang Berdosa
Seperti biasa, pekerjaan sudah menugguku untuk ku cumbu. memikat mata untuk membayangi masa depan. hal kecil yang kukerjakan saat bermain jari mencari huruf. aku biarkan jemariku menari. mengurutkan pesanan pelanggan yang akan aku kemas. aku berucap yang terkadang tak seharusnya. memaki keadaan yang memang bungkam. aku sadar, bukan naluriku untuk menikmati sesuatu yang tidak aku sukai. Entah, terdorong keinginan apa hingga aku tetap melambai untuk menarik peminat. meski sebersit tawa yang aku simpan rapat-rapat kembaili terpecah. aku menolak jika kebenaran terlewat karena ketidaksukaanku terhadap sesuatu. Cukupkah aku hanya mencela dalam batin untuk perubahan yang diharapkan tertunda ?
Aku mengerti dibalik senyum tipis sahabat-sahabatku yang sedang duduk rapi, sepertinya. keadaan yang siap menerka dan meneriakan kebencian. “Akulah penguasa masa lalumu”. Adakah yang bisa aku dengar selain binar mata yang tertutup keputusasaan, ketakutan, kecemasan atau malah ketidakberdayaan ?. Aku seperti ingin membalikkan meja. Akan aku lihat sisi indah dari hal yang terbalik.
Bukan saat yang tepat, jika aku menutupi sisa balas budi dengan mengorbankan sesuatu yang justru memercikan kebengisan. Mungkin, sudah benar memeluk kenangan dengan doa. aku hanya makhluk lemah yang takut bertindak. Memegang erat kepala, mengusap dada dengan menyadari tangisan yang tertahan. Perutku terasa panas menahan amarah dan seakan siap meledak menghancurkan duniaku. Saat itu pun, aku akan masih tetap membisu. menundukan kepalaku dari memandangi layar monitor. sudah tegar bagiku untuk bisa menelan getir pahit perpecahan, perpisahan, pertengkaran anak manusia yang tak mau mengakui kebodohannya. Memang aku harus diam. lalu sadar jika mulutku penuh dosa yang membuatku lupa harapan. sebuah harapan, bahwa kita bisa bangkit dari keterpurukan tanpa membuang paksa ‘sang pengisah lama’.
Sumber Gambar : mindpowerindia.org

0 komentar:
Posting Komentar